twitter facebook instagram pinterest linkedin

Sky Cantiki

Menulis untuk hidup

Judul tulisan ini adalah jenis kelamin yang sempat kubenci.


Namun aku adalah seorang perempuan.

Menjadi seorang perempuan pernah begitu aku sesali. Segala yang menempel di tubuh dan jiwaku sebagai seorang perempuan selalu aku sangkal dan musuhi. Rambut panjang, pantat montok, payudara yang menumbuh, dan femininitas.

Aku tak pernah sudi merawat rambutku hingga panjang dan menjuntai seperti perempuan kebanyakan. Pernah kupangkas ia dengan gaya potongan lelaki. Aku merasa keren dan berada satu langkah menuju menjadi laki-laki. Tidak hanya itu, aku pernah menekan kuat-kuat payudaraku. Mengapitnya agar tak terlihat tonjolan itu. Rok, gaun, adalah pakaian yang aku benci dan hindari. Aksesoris pernak-pernik tak pernah bertengger di tubuhku. Tidak lupa, warna merah jambu membuatku jijik melihatnya. Aku menjauhkan segala hal yang menurut masyarakat berbau feminin.

Beberapa temanku di sekolah memanggilku dengan sebutan "Abang" karena aku terkenal dengan ketomboianku. Dan beberapa orang menyangkaku sebagai seorang lesbian. Tidak menyukai laki-laki karena memendam kebencian yang teramat kepada lelaki.

Menjadi seorang perempuan pernah begitu aku benci, ketika bapakku menginginkan seorang anak laki-laki.

Tuhan Yang Maha tidak diketahui alasan di balik ketentuan-Nya menakdirkan kesemua saudaraku berjenis kelamin sama: perempuan. Menjadi seorang perempuan adalah sebuah penyesalan dan kesalahan baginya, bagi seseorang yang kukira akan paling menyayangiku sebagai seorang perempuan. Namun baginya, anak laki-laki memiliki nilai yang lebih tinggi. Anak lelaki miliknya adalah "segala-galanya". Sampai aku tak tahu apakah aku masih bisa menganggapnya laki-laki yang penting di hidupku ketika kehadiranku tak menjadi penting baginya hanya karena jenis kelaminku?

Dan kesemua usahaku yang tolol itu dilatarbelakangi dengan harapan akan dapat menggantikan anak laki-laki yang begitu ia harapkan. Menunjukkan kepadanya bahwa aku bisa menjadi apa yang ia mau. Meski aku tidak terang-terangan menyampaikan maksudku itu.

Lama kelamaan pun aku muak. Haruskah aku begitu? Haruskah aku selalu membenci diriku, membenci identitasku ketika yang kuusahakan hanyalah kesia-siaan?

Namun, akhirnya aku menemukan keistimewaan sebagai seorang perempuan yang tak dimiliki kaum adam. 

Seluruh tubuh perempuan seperti seniman yang menghasilkan banyak karya. 


Tujuh tahun lalu aku bukanlah seorang anak perempuan yang dekat dengan ibunya.
Tujuh tahun lalu aku dan mamaku hanya dipenuhi pertengkaran.
Tujuh tahun lalu kami saling salah paham.

Aku tidak terlalu ingat dan menyadari betul kapan persisnya aku jadi akrab dengan Mama dan "kenapa". Mula-mula dua jenis pertanyaan itu selalu aku tanyakan dalam diri ketika sedang melamun dan baru menyadari berbincangan kami yang semakin hangat dan semakin lama kami jarang teribat pertengkaran.

Kapan? Dan mengapa? Apakah tiba-tiba?

Saat itu, ketika aku menjadi remaja tanggung, semua ucapan Mama adalah salah dan bohong belaka, bagiku. Apa yang dibicarakannya tak ingin aku dengar dan percayai. Aku seperti musuhnya yang terang-terangan menyangkal dan menentangnya. Hubungan kami hanya dipenuhi kesalahpahaman dan kemarahan.

Aku ingat betul, aku pernah marah tak beralasan kepada temanku yang selalu mendengarkan ucapan ibunya. Ia selalu bilang, 
"Kata ibuku.." 
"Kata ibuku..."
"Kata ibuku..."
yang membuatku geram.

Setelah aku telusuri lebih dalam perasaanku, marah ini bukanlah marah biasa. Ini adalah kecemburuan yang dibalut kemarahan. Rupanya aku cemburu padanya yang memiliki hubungan baik dengan ibunya, yang pada saat itu aku melihat Mama condong kepada kakak dan adikku. Aku cemburu pada siapapun yang terlihat akrab pada ibunya, bisa berkomunikasi lancar dan dipenuhi tawa hangat, seperti yang kakak dan mamaku lakukan. 

Aku jadi berpikir, apakah yang sebenarnya menyebabkan hubunganku dengan mama tak kunjung membaik dan hangat?

Rupanya kami saling salah paham. Rupanya kami tak saling mendengarkan.

Aku kadang bingung harus menyesali atau mensyukuri tindakan jahatku di masa silam. 

       




        Belum pernah dalam hidupku merasakan ketakutan dan kekhawatiran sebegininya. Berjuta-juta kali lipat dari ketika kecemasan tak beralasan menyerangku. Segala pikiran buruk yang datang dan menumpuk berusaha aku sapu keluar ruang tenang. Tetap berperilaku seperti biasa begitu amat aku paksa, dan ketika berhenti dari kesibukkan duniawi apapun yang buruk kembali menggentayangi.

        Melihat Mama memasuki ruang isolasi tubuhku bergetar bukan main. Tanganku tak mampu melambai saking gemetarnya, saking aku tak memiliki daya untuk berbuat apa-apa. Aku terperangah dengan apa yang baru saja aku dengar. Benarkah kesemua itu? Namun hari itu aku melihat kelelahan yang sangat lelah di mata Mama yang telah lama ia simpan seorang diri. Tubuh yang selalu sigap melakukan sesuatu, tubuh yang bisa melakukan banyak hal itu, seperti sebuah pohon yang diterpa hujan badai. Ambruk. Tumbang.

Aku takut.

Sangat takut.

        Sepanjang jalan aku pulang, tanpa membawa mama di jok belakang, dengan meninggalkan Mama menghuni ruang menyeramkan, air mataku mengalir di tengah kemacetan yang selalu aku terobos di tiap celah yang dapat aku lewati. Di kanan jalan atau kiri trotoar. Aku tidak mampu membayangkan hidup yang masih berantakan ini tanpa sesosok Mama, aku tidak bisa membayangkan betapa halusnya kepingan hatiku jika itu terjadi. Semakin dibayangkan, semakin menyakitkan, semakin banyak bulir-bulir air mata berjatuhan. Semakin kencang kepalaku menggeleng.

        Seketika hanya ada Mama dalam kepala. Dosa-dosa yang kuperbuat padanya, kelembutan hatinya, dan ketegaran jiwanya yang aku tak mengerti mengapa bisa. Begitu banyak luka yang telah ia tambal, seratnya finansial yang ia beri pelumas, dan keinginan buah hati yang satu-satu ia penuhi. Caranya mencinta dan caranya mengagumi anak-anaknya jelas berbeda. Mungkin memang tidak seperti apa yang dimau, namun tiap ibu miliki caranya sendiri. Bahasa cintanya yang pelan-pelan aku pahami, caranya mengagumi dan merindu yang sedikit-sedikit mulai aku ketahui, sungguh semua itu berterbangan di atas kepala.

        Aku takut tak punya cukup waktu untuk menjadi kebanggaannya.

        Sepanjang jalan itu juga aku meminta dengan hati yang tak pernah setulus itu sebelumnya, "Tuhan, jangan ambil Mama dulu." bahkan aku seperti tak mampu mengucapkan itu, aku tak mau mengucapkan kalimat yang menyeramkan itu. Aku menggeleng dan terus menggeleng. Menaruh asa dalam jiwa dan kepala.

Newer Posts
Older Posts

Pemilik Ruang


Halo, selamat datang di Ruang Tenang! Senang mengetahuimu mengunjungi ruanganku, tempat aku melarikan diri dari kegaduhan dunia. Di sini kau akan bertemu sekat-sekat ruang dalam kepalaku yang begitu sesak menjadi untaian kata-kata.

Mari Berteman

Labels

Berdikari Jurnal Karya Teman Hidup

Blog Archive

  • ►  2022 (9)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (6)
  • ►  2021 (1)
    • ►  Desember (1)
  • ▼  2020 (11)
    • ▼  Desember (3)
      • Perempuan
      • Penuh Amarah
      • Hari Paling Menakutkan
    • ►  September (2)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2019 (5)
    • ►  November (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Februari (2)
  • ►  2018 (5)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (1)
    • ►  April (2)
  • ►  2015 (10)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2014 (3)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (2)


FOLLOW ME @INSTAGRAM





Created with by BeautyTemplates | Distributed by blogger templates