twitter facebook instagram pinterest linkedin

Sky Cantiki

Menulis untuk hidup





2 Januari 2020, tanggal rilis film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini. Ketika aku tahu, aku gegas memesan tiket. Pokoknya aku harus nonton di hari pertama. Baik, pukul 17.00 WIB di Lotte Cinema Fatmawati.

Di awal-awal aku masih tidak mengerti secara keseluruhan karena alurnya bolak-balik, aku harus mencerna baik-baik. Masa kecil dan masa kini silih berganti dengan tokoh berbeda yang membuatku sedikit bertanya.

Di pertengahan aku mulai cukup mengerti dan emosional. Menempatkan posisi menjadi Aurora, si anak tengah yang banyak diam, cuek, tapi sebenarnya penuh luka. Keberadaannya seolah tidak penting, tapi ia bebas melakukan apa-apa yang ia mau, salah satunya berkarya. Ia sangat berbakat, tapi keluarga tidak begitu meliriknya, pun mengapresiasi sesuai dengan yang ia inginkan.

Seketika aku mengingat diriku beberapa tahun mundur, di mana aku merasakan persis rasanya menjadi Aurora. Aku anak tengah, banyak diam. Sekali bicara akan meledak, kalau tidak begitu tidak akan didengar. Aku ingat persis rasanya tak dekat dengan siapa-siapa. Sendiri. Di dalam rumah yang seharusnya penuh interaksi hangat, sekujur tubuhku dibekukan keheningan dinding-dinding kamar. Tidak ada yang bisa kuajak bicara, tidak ada yang mau menanggapiku dengan tulusnya. Bincang-bincang hangat tak pernah memeluk tubuhku yang kedinginan. Aku mendekam di kamar. Berinteraksi pada langit-langit, bantal, dan selimut yang satu-satunya yang masih memberi hangat. 

Terkadang aku berpikir, aku harus menjadi siapa untuk bisa didengar, untuk bisa dianggap ada.
Aku tak pernah menyempil di tengah-tengah tawa mereka yang gemanya bisa terdengar sampai kamar yang terkunci. Kamarku seperti gudang tak berpenghuni yang bernyawa. Aku seperti benda tak kasat mata di rumahku sendiri. Berkeliaran di ruang tanpa tegur sapa, gerak-gerak tubuhku saja yang menghasilkan suara.

Apakah aku ini tidak cukup layak untuk dilibatkan percakapan atau untuk sedikit diberi perhatian
Aku bertanya-tanya apa yang menjadi pembeda. Atau memang segala yang ada di diriku ini dipenuhi keanehan, hal-hal yang tidak bisa diterima nalar.

Emosiku, semua tercurah dalam tulisan. Sebuah karya yang tidak menjadi apa-apa. Yang tidak disukai siapa-siapa, pun dengan diriku sendiri. Tapi, aku tetap menulis, karena dengan itulah caraku bertahan hidup. Menulis adalah subtitusi dari bibirku yang tak pernah terlibat diskusi atau cerita-cerita kecil tentang sekolah, tentang perasaan lelah, tentang diriku yang semakin lama semakin tak terarah. Hanya dengan menulis aku melanjutkan hidupku. Kertas adalah telinga paling setia. Segala resah atas ketidakpantasanku tercurah. Ia tak membantah atau menganggap perasaanku sebagai gelas pecah: tidak berguna.

Aku menangis. Terus menangis mendengar kata tiap kata yang Aurora katakan. Terlebih pada kalimat;
"Kalian sudah kehilangan aku."
Iya, mereka kehilanganku. Keberadaanku semu. Bertahun-tahun aku hidup di rumah dalam keterasingan, dalam ketidaknyamanan.

Kasih dan perhatian yang seharusnya dibagi rata, dirampas mereka. Sulung dan bungsu menikmati dengan cuma-cuma. Sedangkan aku mati-matian melakukan segala tindakan demi pujian, demi apresiasi yang tak kunjung kudapati. Seharusnya tak perlu ada aku di dunia kalau mereka tak memangkuku sama. Tak mengecek suhu tubuhku ketika musim hujan tiba, tak menanyai bagaimana hari-hari yang kujalani, tak disuguhi pereda panas ketika aku demam. Semua kupikul sendiri, meski harus merangkak perih.

Aurora berhasil membangkitkan pilu yang semula tertidur lelap dalam paksaan. Yang kupaksa tidur karena usiaku telah dewasa. Sedikit-sedikit rasa masih ada. Masih bertanya-tanya.

Aurora juga berhasil memberi tahuku betapa kuatnya aku dulu, betapa semuanya telah kulalui seorang diri. Tanpa meminta uluran tangan dari siapa-siapa. Betapa semuanya semenyakitkan itu, betapa aku dililit rasa cemburu. 

Aurora mengingatkanku bahwa aku harus tetap tenang. Sesekali diam, tapi perlu berbicara dan bertindak juga. Aurora memberikanku cermin, melihat luka-lukaku yang membusuk abu-abu yang segera harus dikubur tanah basah kemudian diberi doa supaya tidur selamanya.

Anak tengah ini banyak belajar dari perasaan keterasingan itu, yang begitu menyiksa dan memproduksi air mata pada malam menjelang. Mungkin aku bisa kaya jika berlian yang keluar dari sana.
Tapi aku kini juga kaya, kaya akan rasa dan pengalaman. Aku berterima kasih diizinkan merasakan perasaan seperti itu yang menjadikan aku kini, yang membentuk rasaku sekarang.

Terima kasih diriku, sudah bertahan, sejauh ini.

Terima kasih karena telah menjadikan segala kesakitan sebagai bahan pembelajaran.



Aku mengembuskan napas lega. Akhirnya 2019 berakhir dan aku masih tetap bertahan. Meski kutahu, aku tidak sepenuhnya bisa bernapas lega, karena masih banyak hal di depan yang aku tidak tahu yang aku harus hadapi. Tapi paling tidak, aku tahu bahwa apa yang harus aku lakukan di depan nanti. Bagaimana menghadapi ini, menghadapi itu. Aku sudah banyak belajar dan latihan di tahun lalu.

Persiapanku cukup matang, cukup rapi dan cukup siap untuk menghadapi segala kendala yang sudah menunggu di sana. Aku tidak berekspektasi tahun ini akan mudah, aku hanya membuat kemungkinan bisa melewatinya jauh lebih besar karena kesiapan yang telah kulakukan sebelumnya. Demi tidak ada lagi aku yang terpuruk dan hanya meratapi kesedihan serta kegagalanku. Karena itu hanyalah jebakan. Itu hanyalah lubang perangkap.

Aku mempersiapkan diriku dari hal kecil, seperti membereskan kamar dan mendekorasi ulang kamar indekosku. Awalnya cukup sulit dan memusingkan mau kuapakan ruangan sempit ini dengan peralatan yang cukup banyak? Akhirnya aku mencoba untuk membuang dan membawa pulang barang-barang yang tidak begitu sering aku gunakan. Baju-baju yang berwarna mencolok atau yang jarang kupakai, kutaruh di rumah. Kamar indekosku kini jauh lebih rapi dan lega.

Selain itu, aku pun membuat bullet journal, agar segala kegiatanku tersusun rapi dan tidak ada yang terlewat. Tahun lalu, aku sangat kacau, hingga banyak sekali jadwal terlewat dan akhirnya aku keteteran sendirian. Pusing. Lelah juga. Bawaannya hanya ingin tidur dan tidak mau ngapa-ngapin, sedangkan tugas semakin menumpuk. Journal ini sangat membantuku dan memudahkanku dalam melalui hari-hari. Membuatku lebih fokus juga pada sesuatu yang ingin kulakukan kemhdian kutuju.

Aku mulai menulis kembali, ya seperti ini contohnya.
Aku menantang diriku untuk menulis blog setiap hari, tentang ide-ide liarku atau hanya berupa catatan harian atau curahan perasaan yang masih mengendap di palung kalbu. Aku sadar, seorang penulis seharusnya menulis. Setiap saat dan tak ada hentinya. Tidak peduli bagaimana suasana hatinya. Negatif atau positif, senang atau sedih, ya tulis saja. Apa pun itu. Tulis.

Baiklah, aku sedikit memaksa diriku. Karena aku sering lalai dan abai, terlalu dimanjakan oleh diriku. Dan itu menyesatkan. Aku memaksa diriku untuk menaruh barang ke tempat semula dengan segera, tidak menggeletakkannya begitu saja setelah menggunakannya. Karena itu salah satu kebiasaan burukku yang harus sekali kuubah. Harus. Dengan paksaan, aku sedikit bergerak. Hari perhari lama kelamaan menjadi kebiasaan, kemudian jadi melakukan tanpa dipikirkan.

Di tahun ini, aku menyempilkan harapan kecil; aku di kelilingi manusia-manusia baik, berenergi positif, lebih bahagia, sehat fisik dan mental, serta lebih giat belajar.
Paling tidak aku mau perubahan di dalam diriku yang lebih baik, menjadi manusia yang lebih manusia lagi dari sebelumnya. Aku antusias sekali untuk melewati hari-hari, melakukan peranku yang telah Tuhan tentukan bagaimana jalan ceritanya.

Tidak melulu untukku, aku juga meminta kawan-kawanku bisa pulih dan lebih baik dari sebelumnya di tahun ini. Pergerakkan-pergerakkan mereka yang meski kecil akan mendapatkan ganjaran. Karena aku percaya, setiap usaha yang kita lakukan, sekecil apa pun itu, memiliki balasannya tersendiri.

Jangan bosan menjadi orang baik,
Jangan mengharap balas dari kebaikan yang kita usahakan

T u l u s

Nanti jalanmu dipermulus.



Tahun telah berganti. Kini hari keenam di Januari. Seharusnya aku menulis ini tepat pada malam pergantian tahun, tapi entah kenapa belum ada kemauan. Ini juga jadi salah satu pelajaran bagiku bahwa untuk melakukan sesuatu yang (kuanggap) baik tidak perlu menunggu sampai aku mau dan siap. Dan di hari ini aku memaksa melakukannya. Rupanya diriku harus diperlakukan lebih keras olehku supaya tidak stuck di situ melulu.

Tahun 2019 bisa dibilang tahun yang begitu melelahkan, banyak sedihnya, banyak kacaunya. Jatuh dan bangun tidak seimbang, terlalu banyak jatuh.

Kehilangan masih menyapaku di tahun itu. Seorang yang kuanggap menjadi satu-satunya yang tersisa dari SMA, rupanya tumbang juga. Kepergiannya abu-abu, aku juga tidak meminta penjelasan yang perinci. Biarkan saja jika ia memilih pergi. Aku tidak mau menarik-narik dan meminta dengan sangat untuk menetap. Aku tidak lagi memiliki energi untuk itu, dan menurutku aku tidak lagi harus berperilaku begitu. Semakin ke sini aku semakin sadar bahwa bukan tugasku untuk membuat mereka yang ada di hidupku untuk menetap, itu adalah pilihannya.

Sepi.
Itu yang paling membekas. Tahun 2019, pertama kali aku keluar dari rumah. Tinggal sendiri di kamar indekos yang kudekor sebisa mungkin agar membuatku nyaman dan merasa di rumah. Mula-mula aku sangat bahagia. Bebas ke sana-ke sini sesukaku, menjelajah ruang-ruang yang beluk kupijak. Tapi, rupanya tidak sebahagia itu. Ke mana-mana sendiri tidak melulu menyenangkan, aku sadar aku butuh teman. Aku tetap manusia sosial yang butuh berbincang dan tidak merasa sendirian.


Kecemasan yang kerap menggentayangiku. Itu semua bagai tali simpul yang melilit leherku, atau sebuah silet di atas nadiku. Mematikan. Perlahan-lahan.

Newer Posts
Older Posts

Pemilik Ruang


Halo, selamat datang di Ruang Tenang! Senang mengetahuimu mengunjungi ruanganku, tempat aku melarikan diri dari kegaduhan dunia. Di sini kau akan bertemu sekat-sekat ruang dalam kepalaku yang begitu sesak menjadi untaian kata-kata.

Mari Berteman

Labels

Berdikari Jurnal Karya Teman Hidup

Blog Archive

  • ►  2022 (9)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (6)
  • ►  2021 (1)
    • ►  Desember (1)
  • ▼  2020 (11)
    • ►  Desember (3)
    • ►  September (2)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (1)
    • ▼  Januari (3)
      • Nonton NKCTHI, Tim Anak Tengah
      • Meramu Tahun Baru Supaya Tak Lagi Semu
      • Hal yang Kupetik di 2019
  • ►  2019 (5)
    • ►  November (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Februari (2)
  • ►  2018 (5)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (1)
    • ►  April (2)
  • ►  2015 (10)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2014 (3)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (2)


FOLLOW ME @INSTAGRAM





Created with by BeautyTemplates | Distributed by blogger templates