twitter facebook instagram pinterest linkedin

Sky Cantiki

Menulis untuk hidup




Bicara mengenai teman pasti memiliki banyak ragam. Mulai dari agama, ras, budaya dan lain sebagainya. Tapi gimana, nih, mengatasi perbedaan yang ada? Menyesuaikankah atau malah terkesan lebih memaksakan diri?

Aku pribadi pernah jadi orang yang tidak menggunakan hijab dan bisa dibilang pakai baju yang sedikit terbuka. Dan aku ada di sekeliling orang-orang yang lumayan banyak menggunakan hijab, juga ada yang tidak berhijab tapi lebih sopan pakaiannya dibandingkan dengan apa yang aku pakai mungkin. Aku tidak pernah merasa itu mengganggu mereka karena gaya berpakaian setiap orang pasti berbeda dan memiliki seleranya masing-masing. Aku ini terbilang orang yang memiliki toleransi tinggi. Selagi itu tidak merugikan pihak manapun, aku tidak akan mempermasalahkannya.

Tapi rupanya gaya berpakaianku cukup mengganggu untuk mereka, atau gayaku yang lebih menonjol dari mereka itu membuat orang-orang mempergunjingkanku. Aku lagi-lagi bukan orang yang peduli akan hal itu. Jadi aku bersikap biasa saja. Dan suatu ketika salah satu temanku berbicara kalau dia agaknya malu bersanding denganku kalau kemana-mana. Dia yang menggunakan hijab sedangkan aku yang berpakaian lebih terbuka. Aku cukup terkejut mendengarnya. Bukankah seharusnya aku yang merasa malu?

Aku terus memikirkan hal itu.

Sampai ada temanku yang lain mencoba memintaku untuk menggunakan hijab saat berkumpul dengan mereka. Aku mengiakannya. Lagipula itu bukan hal buruk. Semakin lama semakin aku terapkan, tapi aku semakin tidak nyaman dengannya yang kok "terkesan memaksakan" ya? Kalau memang mereka mau aku berhijab, mungkin ada baiknya bilang dan menyadarkan aku melalui cara yang lain. Sampai aku merasa bertemu dengan mereka adalah hal yang tidak membuatku nyaman.

Singkat cerita, kini aku berhijab.

Seperti apa yang sudah aku bilang kalau keputusanku itu membuat banyak orang tercengang.

Aku memiliki seorang teman yang tidak berhijab, tapi pakaiannya lebih sopan daripada aku. Kami bertemu dan seketika ia berhijab tanpa bilang kepadaku.
Kutanya ia apa maksudnya memakai hijab, memang keinginannya atau hanya untuk menyesuaikan dirinya denganku?
Sungguh aku sedikit marah kala itu.
Aku merasakan rasanya tidak enak diperintah melakukan apa yang tidak aku ingini dan itu benar-benar tidak nyaman, jadi aku tidak mau menyuruh siapapun untuk ikut berhijab saat bertemu denganku. Itu bagiku sebagai bentuk pemaksaan hanya untuk terlihat serupa. Itu bagiku sebagai tanda kalau aku malu memiliki mereka dan menuntutnya banyak.

Aku tidak bisa seperti itu.

Kubilang kepadanya tidak perlu menyesuaikan dirinya denganku yang justru terkesan memaksakan. Soal hijab adalah panggilan hati meski kutahu itu adalah kewajiban. Aku benar-benar tidak bisa memaksakan kehendak mereka hanya demi enak dipandang, lebih sopan dan tidak dibicarakan. Toleransiku setinggi itu.

Aku merasa tidak perlu ada upaya khusus dalam berteman secara penampilan atau apapun selain perasaan. Bagiku itu hanya membuat rasa nyaman menjadi berkurang, membuat orang lain tidak menjadi dirinya sendiri. Aku percaya kebaikan akan menular. Sedikit demi sedikit saja dulu, tidak usah memaksakan. Aku pun berhijab karena kesadaranku sendiri melihat kebaikan teman-temanku. Aku pribadi tidak menyukai pemaksaan dalam bentuk apapun.

Aku harap tidak perlu sebegitu mengubah penampilanmu demi terlihat serupa. Tidak mengapa kalau berbeda.




Aku terlalu banyak risau pada sesuatu yang parau.
Memberitahu tanpa mengetahui ternyata salah satu hal yang tidak merisaukan. Atau juga melenyap sesaat dengan bait-bait yang masih diingat. Aku sudah berkeinginan hilang, tapi dengan syarat tetap dikenang. Seperti keterusikan hanyalah gerbang fana yang nyata, tapi sesungguhnya bisa saja diberi jeda.

Cukup terperangah meski siuman dengan jangka, bait-bait dari mulutku bernyawa di hidup segala. Satu persatu terlihat semu. Aku bahkan tak tahu siapa mereka, siapa aku. Tahu tidak, kalau aura yang mengaliri akan bermuara di hati? Prosesnya sama. Apa yang disampaikan dengan hati dan mengandung kasih, sungguh mampu membuat takjub. Lagi aku tak pernah mengira. Sungguh tidak. Aku tidak pernah berandai-andai menyulap sekerumun kataku menjadi anak panah, menancap lurus di dada mereka sampai ke kalbu. 


Dan,
kini jeda mengetukku...

Katanya, hendak berkunjung. Sungguh tahu diri ia datang di tepat waktu.

Aku.. aku dibuai keadaan, senang atas ketidakdugaan, dan marah atas ketidakterkendalian.
Rupanya lelah adalah aku yang sekarang.
Meski aku tahu akan didengar, tapi aku enggan bicara apapun. Aku sungguh enggan menjelaskan kepada mereka apa-apa yang aku lihat yang tidak mereka lihat. Aku sungguh lelah menjelaskan mengenai itu, tapi aku juga lelah melihatnya semena-mena. Membenarkan satu sisi saja yang memiliki banyak makna.

Kacamata mereka belum tebal, belum melihat jelas apa yang tersembunyi di balik seluk beluknya semesta.


Jeda katanya hendak membantuku padahal aku tidak meminta begitu. Dan katanya, kau akan terbantu, aku tahu kau butuh uluran tangan yang sejak lama tidak siapapun berikan.

Aku benar-benar butuh jeda..
dan ia menghampiriku segera

Teriak dalam hati mana enak, sudah tidak terdengar semakin muak pula. Tidak menyelesaikan apa-apa. Berbicara pada mereka pun untuk apa? Untuk apa? Untuk apa? Untuk membuatnya mengerti beberapa alinea yang seharusnya mereka baca?

Tulisan itu tak pernah menghampiri tuannya dan mereka lupa itu

menganggapnya seperti kopi yang akan selalu disuguhi dalam keadaan segala


Biar aku bertemu jeda,
ia siap kembalikan setelah satu persatu terselesaikan.

Aku memang sedang kewalahan atasi peperangan jiwa dan kepala. Aku tak mau mendengar kata rindumu itu. Aku juga tidak mau mengeluhkan seberapa aku ingin kau tahu bahwa aku ingin memborong waktu hanya untuk berbincang hangat denganmu diselingi senda gurau dan tawa-tawa yang melebur. 
Aku sedang tidak ingin berlabuh di bahumu
Aku sedang tidak ingin bicara dulu


Aku ingin jeda
aku ingin jeda ceritakan padaku pantaskah apa yang kulakukan ini
aku ingin jada katakan bagaimana kelanjutan ceritannya
dari puan yang sedang risau
yang tidak ingin terjebak dalam ketidakhirauanmu
Newer Posts
Older Posts

Pemilik Ruang


Halo, selamat datang di Ruang Tenang! Senang mengetahuimu mengunjungi ruanganku, tempat aku melarikan diri dari kegaduhan dunia. Di sini kau akan bertemu sekat-sekat ruang dalam kepalaku yang begitu sesak menjadi untaian kata-kata.

Mari Berteman

Labels

Berdikari Jurnal Karya Teman Hidup

Blog Archive

  • ►  2022 (9)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (6)
  • ►  2021 (1)
    • ►  Desember (1)
  • ►  2020 (11)
    • ►  Desember (3)
    • ►  September (2)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (3)
  • ▼  2019 (5)
    • ►  November (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
    • ▼  Februari (2)
      • Menyesuaikan atau Memaksakan Diri?
      • Berjeda
  • ►  2018 (5)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (1)
    • ►  April (2)
  • ►  2015 (10)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2014 (3)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (2)


FOLLOW ME @INSTAGRAM





Created with by BeautyTemplates | Distributed by blogger templates