twitter facebook instagram pinterest linkedin

Sky Cantiki

Menulis untuk hidup

Shindi Febrianik gadis kelahiran 01 Maret 2001. Dia adalah narasumber pertama saya. Pada 06 Januari 2018 saya mewawancarainya di Kedai Moo Nyusu. Saya mengatakan kepadanya bahwa dia adalah pilihan yang hidupnya menarik untuk saya ulas menurut saya. Tapi dia tidak percaya, dia mengatakan bahwa tidak ada yang menarik dari hidupnya kemudian saya tertawa. Bukan karena meremehkannya, tapi karena lucu melihatnya bahkan tidak menyadari kelebihannya sendiri, ia hanya tahu apa-apa yang kurang dalam hidup dan dirinya.
Dia adalah anak semata wayang dari pengemudi online dan penjual ayam bakar. Saya melihat kegigihannya serta keceriaannya di setiap hari kebetulan dia adalah adik kelas saya. Dalam penuh tekanan, dia selalu membantu ibunya dan mengatakan bahwa itu sudahlah kewajibannya sebagai anak. Meski hobinya sering kali dianggap hal yang tidak penting, tapi ia selalu berusaha dan selalu mengembangkannya. Ia gemar bahasa Inggris dan ingin mempelajarinya lebih dalam lagi. Di samping mengidolakan One Direction, ia sambil terus menggali potensinya dalam berbahasa Inggris, mencuri-curi waktu.
Saya sedikit memberinya masukan untuknya agar lebih giat dan termotivasi untuk melangkah maju serta tidak merasa sendirian dalam melakukan perubahan yang positif. Hingga suatu waktu saya temui dia lagi dan bertanya bagaimana kabarnya, dia menjawab lebih baik. Dia juga mengatakan bahwa orang tuanya sudah mendukungnya untuk mempelajari bahasa Inggris lebih dalam dan memberi waktu luang untuknya. Saya senang bisa bermanfaat, saya senang mengenalnya.
Hal yang dapat diambil darinya adalah kebaktiannya pada orang tua. Membantu orang tua dan berusaha meredam dirinya.



Terima kasih telah menginspirasi.


Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan, tidak ada yang sempurna di dunia ini. Lalu mengapa masih ada saja yang saling menertawakan kekurangan satu sama lain? Mengapa salalu  mengkritisi sesuatu yang salah tanpa mencoba mengapresiasi yang sudah benar?

Aku sangat tidak respect pada seseorang yang selalu saja menilai orang lain dari luarnya (penampilan) saja. Mereka menjuluki seseorang hanya berdasarkan apa yang terlihat tanpa mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, apa latar belakangnya. Tak jarang mereka menertawakan kelemahannya yang begitu menonjol, seperti; pendek, gendut, berkulit hitam, cara jalannya yang aneh, wajah yang tidak cantik atau tampan menurut mereka, melalukan hal yang salah saat bicara di depan umum (khususnya di depan kelas), hal-hal yang berasal dari kekurangan seseorang lainnya yang seakan-akan mereka jadikan bahan candaan. Mereka mengesampingkan perasaannya, terluka atau tidaknya setelah mereka tertawai dengan begitu puasnya, seolah merekalah yang paling sempurna. Yang mereka pikirkan hanyalah; “dia lucu dan saya harus tertawa”. Kekurangan seseorang bukanlah kelucuan, mungkin sebagian besar dari orang-orang yang memiliki kekurangan tidak menginginkan itu ada pada dirinya, lalu mereka menertawakannya. Bisakah disimpulkan bagaimana perasaannya?

Selain itu, sebagian dari mereka ada yang tidak suka melihatnya memiliki prestasi, percaya diri, pandai bicara di depan umum, ramah dan sebagainya. Mereka menganggap itu adalah hal yang dibuat-buat, tidak natural dan hanya cari perhatian saja. Banyak juga yang berpikir dia hanya mengejar jabatan tinggi saat lebih rajin bekerja, ingin dipandang dan terlalu terobsesi. Mereka membicarakannya bersama teman-teman mereka dengan opini-opini buruk yang tertera di otak mereka yang secara tidak langsung menghasut orang lain untuk ikut tidak menyukainya.

Inilah mengapa aku membuat proyek wawanca dengan narasumbernya adalah orang-orang yang berada di sekitarku. Aku ingin minimal menjadi orang yang tidak menilai orang lain dari tampilannya saja, tidak berburuk sangka, tidak mencaci maki di belakang tanpa tahu kebenarannya, dan tidak beropini miring tentang seseorang yang aku lihat yang belum aku kenal kehidupannya lebih dalam. Aku ingin memahaminya dan menilainya dari ceritanya secara langsung. Cukup aku, jika mereka tidak mau mengerti. Karena biasanya mereka hanya penasaran, tanpa benar-benar peduli.

Dari situ aku mengerti, dari situ aku memahami, dari situ aku tahu bahwa setiap orang memiliki sisi uniknya masing-masing. Membuka lebar-lebar pandanganku terhadap sebab-akibat perilaku seseorang. Aku jadi sangat percaya bahwa selalu ada hal yang bisa dipelajari dari kehidupan seseorang. Seburuk apapun mereka menjulukinya, dia tetap mempunyai hal istimewa yang dapat dipelajari. Bukan ditertawakan.

Kalau dia bilang aku menginspirasi, tidak, justru dia yang telah memberi banyak inspirasi untukku. Aku sangat senang bisa dipercaya, bisa mendengarkan langsung cerita seseorang yang membuka mataku lebar-lebar hingga dalam hatiku selalu berkata “Ternyata ini alasannya.”. Iya, karena semua yang terjadi di dunia ini beralasan, apapun itu.


Untuk orang-orang yang akan aku tuliskan dalam blog selanjutnya, aku mengucapkan terima kasih yang begitu tulus dari hatiku. Terima kasih telah berbagi pengalaman, bertukar pikiran, dan memercayakanku.



Tak bisa dipungkiri bahwa hidup dimulai dari sebuah nama yaitu ‘terbiasa’. Dari hal-hal kecil yang sering dilakukan setiap hari hingga menjadi sebuah kebiasaan. Seperti terbiasa sarapan di pagi hari, terbiasa berjalan kaki, terbiasa makan menggunakan sendok atau hal lain yang tidak pernah kau sadari. Dari hal kecil pasti akan tumbuh sesuatu yang besar. Ya, itu sudah mutlak. Seperti terbiasa berbicara baik dan bergaul dengan teman yang baik. Maka, perilakumu pun akan terbawa baik.

Seperti terbiasa bersama dia, dia yang kau kasihi. Terbiasa menghabiskan waktu dengannya hingga kau tak mampu melepas dia. Terbiasa mengeluh kepadanya hingga kau tak terarah jika tanpanya. Terbiasa memeluknya hingga kau selalu merasa sepi ketika ia tak ada di sampingmu. Terbiasa bercanda tawa dengannya hingga kau merasa kosong jika tak bersama dia. Terbiasa berjalan berdampingan berdua hingga kesedihan menerpamu saat kau berjalan sendiri tanpa seorang pun di sisi. Terbiasa chatting dengannya hingga kau merasa gelisah ketika tak ada greeting darinya. Terbiasa menatapnya hingga kau selalu mencarinya di muka umum. Terbiasa bercerita dengannya tentang apa pun yang terjadi denganmu hingga kau tak tahu lagi harus bercerita dengan siapa ketika telingannya tak sanggup mendengar semua cerita-ceritamu.

Sungguh, keterikatan ‘terbiasa’ sangat membekas di hidup setiap orang. Apa yang telah menjadi kebiasaan sulit untuk dihilangkan. Seperti menghilangkannya dari hati dan hidupmu. Namun, terkadang banyak sekali yang mengharuskan semuanya dihilangkan. Banyak sekali latar belakang yang mengharuskanmu mengganti kebiasaan itu. Entah objek atau pun subjeknya.

Lagi-lagi hidup adalah terbiasa. Jika sesuatu itu mengharuskanmu menghilangkan kebiasaan itu, maka kau harus membiasakan dirimu tanpa dia. Membiasakan hidupmu yang dulu penuh tentangnya kini tidak sama sekali ada tentangnya. Membiasakan harimu yang dulu berwarna karenanya kini kau harus membiasakan harimu gelap tanpanya. Kau harus membiasakan dirimu tanpa dirinya, tanpa tentangnya, tanpa senyumnya, tanpa suaranya, tanpa cerita hidupnya, tanpa bayangan masalalu dengannya, tanpa bayangan wajahnya, tanpa tulisan darinya, tanpa canda tawanya, tanpa pelukannya, tanpa dia dan harus bisa.

Kebiasaan itu akan muncul jika kau tanpa sengaja telah menggantinya dengan sosok yang baru. Percaya atau tidak, hatimu dengan cepat menjawab iya.



Hai masa lalu...
Tidak, aku hanya ingin menyapa. Berdebukah kau? Maaf aku semakin jarang mengunjungimu. Aku disibukkan dengan masa kini dan impian masa depan. Tenang saja, aku takkan melupakanmu. Aku hanya mungkin akan jarang menengokmu.

Hai masa lalu...
Aku hanya ingin menyapa. Terimakasih pernah ada. Terimakasih pernah menjadi bagian perjalananku. Sedih pun bahagia kisahmu menjadi penguat langkahku di masa kini. Bukankah masa kini adalah hasil rentetan perjalanan masa lalu? Maka itu aku berterimakasih.

Hai masa lalu...
Aku pernah jatuh, aku pernah sakit hati. Tapi sudah kusimpan semua cerita dalam sebuah kotak kenangan, yang kunamakan masa lalu. Ya kamu. Ruangmu mungkin kini gelap, aku pasti akan sering kembali melihat ruangmu, namun hanya sebentar. Aku takkan lama-lama, sekedar melihat lagi seperti apa jalan yang kulalui dulu agar aku bisa belajar lagi jika saja masa kiniku aku lupa atau mungkin lalai menjaga langkah.

Hai masa lalu...
Lihatlah aku bagaimana aku di masa kiniku? Bagaimana menurutmu? Semoga kau bangga. Sebab apa pun yang kucapai adalah karena semua pelajaran di masa lalu begitu membekas dan mampu membentukku.

Hai masa lalu...
Mari berdamai. Aku akan belajar mendewasa. Menjadi lebih tangguh di masa kini sebagai penguat langkahku dan pemantap kisahku di masa depan.
Semoga...


(Herlina Ummu Raqil)



Pada akhirnya, kini semuanya menjauh. Apa yang dulu dekat kini sangat jauh karena jarak begitu tebal memisahkan... Memori ingatanmu pun begitu kecil hingga tak mampu mengingat kembali tentang kita. Kamu bukannya tidak mampu, tapi kamu tidak mau.. Biarlah sakit ini yang menemaniku, biarlah kenangan itu yang menjadi bayanganmu. Usah kau pikirkan bagaimana aku tanpamu. Biar ku simpan semua kenangan kita, ucapan manismu, janji-janji yang telah kau ingkari di dalam kardus usang di mana aku menyimpan semua kesakitanku di sana. Hanya aku yang tahu bagaimana sakitnya, hanya aku yang tahu bagaimana hatiku menderita. Sangat menderita..

Biar ku kubur dalam-dalam diriku yang dulu. Diri yang kau benci, diri yang tak mau kau ingat lagi. Aku hanyalah seperti kotak pandora yang tidak boleh dibuka. Aku hanya pecahan kecil dari masa lalumu yang begitu menyesatkan. Aku seperti noda hitam di hidupmu. Begitu jauh kau buang, seperti sampah yang tidak akan kau pungut kembali. Aku tidak akan membencimu, aku tidak akan membalas kekejamanmu, rasa ini masih akan selalu tersimpan untukmu.. Panggillah aku 'si bodoh' yang selalu menyayangimu walau pencampakanmu begitu sakit ku rasa.. Namun, itu belum mampu menghapus semua kenangan indah yang kau buat. Aku akan selalu menanti.. Menanti kehadiranmu lagi di hidupku. Walau.. Itu hanya menjadi harapku.

Aku akan lahir kembali dengan segala pembaharuan di hidupku. Tak peduli kamu akan berkata apa dan menganggap apa. Tak peduli pula jika ada yang mengatakan jika aku berubah. Justru itu lebih baik. Lebih baik aku menjadi baru dan bisa merelakanmu pergi jauh dari hidupku. Aku salah, kita bukanlah magnet. Kita hanyalah dua siluet yang saling berdekatan walau diri kita jauh. Aku menyadarinya ketika kamu bilang, aku tidak pernah ada di dalam hidupmu. Penganggapan yang sangat luar biasa menyakitkan.

Jika jemari ini tidak lagi bisa menggenggam tanganmu, jika tubuh ini tidak lagi bisa kamu lihat, jika mata ini tidak lagi bisa kamu tatap untuk kesekian kalinya, aku memohon maaf. Itu bertanda bahwa aku benar-benar lelah. Benar-benar tidak bisa menantimu lagi.. Aku akan menutup hatiku yang lama dan akan membuka hatiku yang baru..

Aku lemah, sangat lemah jika harus mengingatmu. Maka, aku lebih baik ikuti jejakmu yang melupakanku.. Tapi kamu perlu tahu, bagiku, melupakanmu adalah hal tersulit. Semakin ku mencoba melupakanmu, bayangan di mana ketika kita bersama, bercanda tawa, saling meledek, justru semakin nyata di otakku dan semakin membuatku pilu.

Aku tidak pernah mau membencimu, karena mungkin ini semua telah tersurat di buku tebal yang bernama takdir. Aku harus belajar menerimanya, aku harus belajar tak menentangnya.. Karena aku percaya kamu telah diberikan seseorang yang lebih baik, begitupun aku..

Kini, lepaskan aku, dan aku pun telah melepaskanmu. Aku telah merelakanmu pergi, aku telah siap untuk jauh darimu, aku telah siap kehilanganmu..


Pria dewasa yang selalu ingin anaknya bahagia. Pria dewasa yang tidak ingin menyakiti anak perempuannya. Pria dewasa yang selalu terlihat tegar dan kokoh di depan anak-anaknya. Pria dewasa yang selalu memberi apa yang bisa ia beri untuk anaknya. Pria dewasa yang selalu menjadi payung dikala hujan, menjadi kuda-kudaan untuk membuat anaknya tertawa bahagia, menjadi tukang ojek gratis yang siap sedia, selalu mengerti keadaan hati anaknya, mendukung apa pun hobi anaknya, menjadi pria nomor satu di hati anak perempuannya. Dan satu hal yang begitu menonjol dari sang ayah, yaitu ‘pengorbanan’.

Ayah.. begitu banyak peran yang dilakukannya. Tujuannya hanya satu, “membuat anak-anaknya bahagia.” Mungkin yang aku tangkap dari semua peran ayah adalah itu. Itu yang paling tepat menggambarkan tujuannya sebagai seorang ayah. Pernahkah kalian melihat tetesan air mata jatuh di pipi sang ayah? Pernahkah kalian diperlakukan kasar oleh sang ayah? Pernahkah kalian membuat hati sang ayah begitu hancur karenamu? Pernahkah kalian mengucap maaf? Pernahkah kalian menjadikan ayah istimewa di hati kalian? Pernahkah kalian menjaga jarak dengan ayah?

Manusia satu ini penuh dengan berbagai cara untuk membuat anaknya yang menangis menjadi tidak menangis lagi. Ayah tahu betul bagaimana cara mengatasinya, bagaimana sikap dan sifat anak-anaknya, walau pun ia jarang berada di rumah. Ayah lebih peka jika seorang anaknya mengalami perubahan entah itu apa, ia pasti merasakannya. Ayah selalu memberikan solusi terbaik, memberikan pengarahan terbaik dengan kata-kata bijak yang terlontar dari bibirnya, ayah selalu mendukung apa pun minat dan hobi anak-anaknya.

Kerja keras seorang ayah tidak tergantikan oleh apa pun. Banting tulang demi menafkahi istri dan anak-anaknya. Tidak pernah meminta balasan apa pun, melihat anaknya bahagia dan sukses itu pun salah satu kebahagian untuknya. “Lakukanlah selama itu yang kamu suka, selagi bermanfaat dan itu yang terbaik.” Kalimat itu yang terlontar saat kamu meminta saran akan kemana kamu melanjutkan pendidikan. Tapi ayah selalu mendukungmu dan tidak ada satu kata pun yang menjurus untuk melarangmu.

Anak perempuan kebanyakan lebih dekat dengan ayahnya, itu karena mereka berpikir setidaknya ada satu pria yang tidak akan menyakitinya dan selalu menjaganya, yaitu ayah. Pria baik hati yang selalu menjaga sang putri dimana pun ia berada. Bercanda tawa dengan gadis remajanya yang pernah dibilang oleh orang-orang sebagai istrinya. Biasanya anak perempuan kesayangan ayah selalu mempunyai hobi yang sama dengan ayahnya. Seperti bangun dini hari untuk menonton sepak bola kebanggaan masing-masing. Atau seperti ikut ayah ke gor untuk bermain bulutangkis bersama, atau mungkin balap sepeda dengannya. Ayah rela bangun pagi untuk mengantarkan anaknya ke sekolah walau baru tadi malam ia pulang kerja. Ayah rela mengantar anaknya kemana pun ia mau. Jalan jauh pun ia tempuh demi melihat lengkungan senyum di bibir anak-anaknya.

Tapi, apakah kamu bisa bayangkan jika ayah tak lagi di sisimu? Atau ayahmu membagi waktu dengan anak orang lain yang ia kasihi? Atau pergi meninggalkan semua kenangan yang amat indah? Atau ayahmu tak mengingatmu sebagai anaknya?

Rindu...
Aku begitu rindu akan sosok ayah yang begitu berperan untuk kebahagianku. Ia manusia yang ada di balik kesuksesanku kelak. Pria dewasa yang selalu aku kagumi. Namun, setelah kasih sayangmu kau bagi dengan beberapa orang yang aku benci, rasa kenyamananku mulai surut. Bersanding denganmu seperti seseorang yang bukan aku kenal. Asing. Berbicara pun seperlu dan semaunya saja.

Ayah...
Betapa menjeritnya hati ini terlalu dalam merindukanmu namun tak pernah terungkap. Betapa nelangsanya diriku ingin memilikimu hanya menjadi satu-satunya ayahku, yang takkan terganti. Mungkin tidak ada yang mengetahui bagaimana hati ini selalu memintamu kembali, tapi setidaknya kamu mengerti bahwa aku merindu, merindumu selalu.

Wahai seluruh ayah di mana pun engkau berada, sayangi anak-anakmu terutama anak perempuanmu. Jangan sakiti dia atau pun melukai hatinya. Semua anak menyayangi ayahnya lebih dari kekasihnya namun hanya saja gengsi yang melekat di dirinya terlalu kuat. Ayah, tetaplah menjadi seseorang raja yang selalu ada di hati anak-anakmu. Aku sadari banyak sekali hubungan ayah dan anak perempuannya merenggang hanya karna ia telah remaja. Tapi pahamilah gadis remajamu masih ingin diberi kehangatan, perhatian, cinta kasih yang tulus. Setidaknya ia mendapatkan itu dari pria dewasa yang tidak pernah menyakitinya setelah ia terluka oleh sang kekasih yang tidak sepeduli kamu, ayah.


Apa yang kalian pikirkan tentang cewek gendut? Apakah jelek? Atau tidak menarik? Yaa, sebagian besar cewek gendut dimata cowok tidak menarik bahkan tidak sedikit dari mereka yang menghinanya. Apakah kalian pernah memikirkan seberapa hancurnya hati mereka? Apakah kalian pernah memikirkan jika kalian yang ada di posisi mereka? Banyak sekali bullying yang terjadi mengakibatkan kehancuran hati seseorang.
Wahai kamu para pem-bully, mungkin kamu tidak tau rasanya menjadi seseorang yang kamu bully, kamu tidak tau kesakitan mereka saat kalimat tajammu menusuk dada mereka. Mereka merasakan kehancuran, mereka sangat tidak nyaman akan pernyataanmu, mereka sangat mau dan rendah diri. Apakah yang akan kamu lakukan jika kamu jadi seseorang yang kamu bully? Mem-bully dia kembali atau hanya merasakan sakit itu sendiri? Kamu adalah seseorang yang begitu jahat untuk mereka. Mereka menaruh dendam menyimpan kekecewaan itu sangat apik di dalam hati. Mereka tidak mampu melupakan kamu siapa pun itu yang telah menghina mereka. Walau pun hanya bermaksud sebuah canda tapi itu adalah hinaan sehina-hinanya untuk mereka. Cewek gendut adalah seseorang yang mampu menutupi apa pun. Mereka mampu menutupi kesedihannya, menutupi kekecewaannya dan tetap berusaha berbicara dengan orang yang telah mem-bully­-nya, berusaha tidak membenci.
Cewek gendut adalah seseorang yang selalu ingin berusaha walau gagal. Contohnya diet. Mereka sudah beberapa kali mencoba berbagai macam program diet ya walau pun harus gagal lagi dan lagi. Tapi mereka bukan orang yang dengan mudahnya berputus asa. Mereka mencoba menahan godaan yang selalu ingin makan dan mereka mampu. Walau pun tidak setiap hari mereka lakukan.
Wahai cewek gendut, jangan pernah takut untuk kehabisan stok cowok ganteng, pintar, dan baik untuk pasangan hidupmu kelak. Mungkin memang saat ini kamu belum mempunya seorang “pacar” yang kamu inginkan. Jangan pernah sedih. Karena cowok remaja hanya mencari cewek yang cantik dan langsing untuk dijadikan pacar, tetapi cowok dewasa akan mencari seorang cewek yang pintar, berbudi pekerti, rajin, keibuan, baik, jujur, dewasa, mandiri, untuk dijadikan seorang istri masalah cantik dan langsing itu hanyalah bonus untuk para cowok yang baik. Ketahuilan “pria yang baik akan mendapatkan wanita baik-baik.”

Saya perwakilah cewek gendut dimana pun kalian berada, saya tidak pernah khawatir untuk tidak mendapatkan seorang pendamping. Saya akan menunjukan seberapa sukses saya dengan begitu laki-laki pun akan datang menghampiri. Percayalah.  Cewek gendut tidak lemah, kamu bisa menjadi lebih baik. Dan satu hal tunjukkan pada mereka kamu bisa langsing dan sudah pasti cantik.



Waktu kembali menjadi sesuatu yang selalu disalahkan. Dulu dan sekarang selalu dibandingkan dan selalu berbeda. Dulu bersama sekarang terpisah. Garis pembatas lebih jahat daripada waktu. Garis pembatas lebih kejam memisahkan. Kini garis pembatas itu berada ditengah-tengah dua orang yang mengasihi. Ia dengan cepat hadir dikeduanya. Tidak juga. Bahkan diantara banyak orang. Ia ingin memilikinya sebagaimana mungkin kamu menjadi hanya miliknya.
Dulu selalu ada waktu untuk bersama, selalu ada tema untuk bercerita, selalu ada tawa dalam cela, namun kini hanya membekas di dalam hati. Aku tidak punya waktu lagi untuk bersamamu, aku tidak punya tema untuk bercerita apa pun kepadamu. Seperti asing, seperti bukan kamu. Wajahmu tapi bukan sifatmu. Jauh dari yang aku kenal dulu. Seperti bukan kamu, iya bukan kamu lagi yang hidup ditubuhmu.
Sekiranya kita tidak lagi mempunyai waktu luang, tapi mengapa membangun kebiasaan yang dulu kita lakukan tidak lagi bisa? Mengapa kamu seolah selalu mundur jika aku maju? Apa tidak ada lagi kasih? Apa tidak ada lagi kenyamanan? Apa tidak ada lagi waktu? Apa tidak ada lagi harapan? Untuk seperti dulu lagi.

Kini garis pembatas itu menarikmu dariku, semakin kuat lagi ia menarikmu, semakin jauh dariku. Kini kita benar-benar jauh. Melihatmu pun bukan sepertimu. Ini belum bermula tapi sudah terasa bejalan begitu cepat. Sang garis pembatas menguncimu untuk tidak dimiliki orang lain. Ketahuilah, aku hanya ingin mempunyai waktu bersamamu lagi, aku hanya ingin berbagi cerita denganmu, seperti dulu. Tanpa ada rasa takut, tanpa ada rasa menghindar. Aku hanya ingin seberapa jauh kamu, jadilah dirimu sendiri, bukan manusia baru atau pun menjadi seseorang yang lain. Jadilah diri kamu, diri kamu yang aku sayang. Jaga diri baik-baik kelak waktu dan jarak memisahkan. Dan untuk kamu sang garis pembatas kamu akan merasakan lebih dan lebih dariku, bagaimana rasanya dipisahkan dan kemudian kehilangan.
Newer Posts
Older Posts

Pemilik Ruang


Halo, selamat datang di Ruang Tenang! Senang mengetahuimu mengunjungi ruanganku, tempat aku melarikan diri dari kegaduhan dunia. Di sini kau akan bertemu sekat-sekat ruang dalam kepalaku yang begitu sesak menjadi untaian kata-kata.

Mari Berteman

Labels

Berdikari Jurnal Karya Teman Hidup

Blog Archive

  • ▼  2022 (9)
    • ▼  September (1)
      • Rangkul Bayangan (Sebuah Usaha Mendekati Diri Send...
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (6)
  • ►  2021 (1)
    • ►  Desember (1)
  • ►  2020 (11)
    • ►  Desember (3)
    • ►  September (2)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2019 (5)
    • ►  November (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Februari (2)
  • ►  2018 (5)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (1)
    • ►  April (2)
  • ►  2015 (10)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2014 (3)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (2)


FOLLOW ME @INSTAGRAM





Created with by BeautyTemplates | Distributed by blogger templates