twitter facebook instagram pinterest linkedin

Sky Cantiki

Menulis untuk hidup

 



Aku mencoba mengingat kembali apa-apa yang terjadi pada tahun lalu. Tahun 2021. Apa saja yang menyenangkan dan menghancurkan. Siapa saja yang datang dan hilang. Di mana saja kakiku berkunjung dan merasa pulang. Kapan saja aku merasa tenang dan terguncang. Bagaimana saja upayaku menenangkan diri dan melewati hari.

2021 kelam yang berwarna-warni, pun cerah yang hitam legam. Keduanya terjadi seperti imbang. Semakin meyakinkanku bahwa senang dan sedih, derita dan bahagia, saling berdampingan. Tidak ada yang benar-benar unggul salah satunya. Bahwa bumi ini berputar tidak hanya untuk satu manusia. Jatuh bangunnya pada setiap kehidupan manusia akan selalu ada. Kita semua merasakannya.

Awal tahun, tidak terlalu baik untuk diulang, namun baik untuk dikenang dan dijadikan pelajaran. Pelajaran paling penting bagiku saat itu adalah bagaimana cara mengelola emosi. Mengelola emosi bagai sebuah pelajaran yang tak berkesudah. Akan selalu ada masa yang mempertemukanku dengannya. Dengan sebuah emosi yang memuncak dan hendak meledak. Disitulah aku diminta untuk mengelolanya supaya emosiku tak mengeluarkan api yang membakar dikiriku dan orang lain. Sulit, sulit sekali. Tetapi, aku terus belajar untuk mengelolanya, dan bukan memendamnya.

Berada di suasana rumah yang baru, menjadi salah satu kebaikan tersendiri. Meski, kami masih tak bisa lari dari rantainya. Rantai yang ia lilit di leher kami. Itu pun menjadi satu yang aku sesalkan, sedihkan, dan terus bertanya mengapa dan kapan. Mengapa harus begini? Dan kapan akan berakhir? Yaaa... hal itu tak pernah mudah dilalui. Kami belum juga bertemu pada titik akhirnya. Penghujung dari semua kelelahan.

 


Jika ditanya, apa yang membuatku kali pertama merasa insecure dan merasa tidak berguna, aku akan menceritakan kisah ini. Kisah yang tidak pernah kuceritakan kepada orangnya langsung karena memang aku tidak mampu bercerita secara lisan.

Aku adalah anak bungsu dari dua bersaudara belasan tahun lalu sebelum tetiba mamaku mengandung adikku di usiaku 12 tahun. Aku dan kakakku hanya berselisih 3,5 tahun. Kami tumbuh seolah berdampingan, tetapi kerap bertengkar. Entah, kami tidak pernah menemukan kecocokan saat itu. Apa yang digemarinya tidak pernah dapat mencuri hatiku. Tetapi, aku selalu melihat apa yang kakakku kerjakan adalah sesuatu yang keren. Sesuatu yang mengagumkan. Tidak dengan apa yang aku kerjakan.

Saat itu, aku merasa sangat iri kepada kakakku sendiri. Ia bak sosok sempurna yang tidak pernah bisa aku setarakan. Tinggi, putih, cantik, pintar, banyak yang suka, berbakat, berprestasi, dan aku adalah kebalikannya. Meski sekilas wajah kami mirip, namun tetap saja pada garis-garis wajah terlihat jelas perbedaannya.

Biar kuperjelas. Aku pendek, gemuk, berkulit lebih cokelat, kalau pintar aku cukup pintar karena gemar membaca namun aku bodoh soal hitung-hitungan, tidak banyak yang suka, tidak pula berbakat (saat itu aku tak tahu bakatku), berprestasi hanya dalam kelas itu pun hanya ketika aku Sekolah Dasar, aku tidak mengikuti kegiatan organisasi, tidak pernah ikut lomba, tidak terlibat dalam kegiatan aktif yang membesarkan namaku.

Aku bukanlah anak yang aktif di sekolah, cenderung pasif dan pemalu. Sementara kakakku, siapa yang tidak kenal ia di sekolah? Ketua geng, ketua kelas, ketua osis, pandai menari bali, anak paskibra, ya seaktif itu. Bahkan, ketika aku masuk ke sekolah yang sama dengannya, aku selalu dipandang dan dikenal karena aku adalah adik kakakku, bukan karena siapa aku. Kupikir dulu itu baik-baik saja dan tidak menjadi masalah besar, namun rupanya itu semakin membuatku ingin seperti kakakku. Aku semakin menjadikannya role model yang dapat kutiru. Sebuah patokan.

Aku melihat hidupnya seru dan menyenangkan. Orang-orang yang ada di sekelilingnya terlihat menyayanginya. Dia memiliki banyak teman, tidak sepertiku. Bergantian teman-temannya datang ke rumah, akrab dengan ibuku seperti ibuku menambah anak baru. Sementara, aku jarang sekali membawa temanku datang ke rumah. Aku lebih suka bertandang ke rumah teman-temanku.

Ketika masuk SMP, kebetulan di sekolah yang sama seperti kakakku, aku pun dikenal karena nama kakakku. Mungkin karena kemana pun kakakku pergi aku selalu mengintilinya. Ketika ia lomba paskibra, sekeluarga ikut menontonnya dan orang-orang mulai mengetahuiku sebagai adiknya. Saat itu aku senang dikenal sebagai adik kakakku. Berarti, kakakku memiliki nama yang baik di mana pun ia pernah berada.

Aku mecoba mendaftarkan diri sebagai anggota OSIS, sebagaimana kakakku dulu. Diterima. Tetap dengan mata yang melirik-lirik, mereka tahu aku adiknya siapa. Satu dua hari aku telah ditetapkan sebagai anggota OSIS. Rasanya? Membosankan!

Lebih kurang seminggu setelah resmi menjadi anggota OSIS, aku mengundurkan diri. Aku merasa terkungkung dengan banyak aturan yang ada. Aku tak suka memakai dasi dan sabuk, tetapi terpaksa kugunakan demi menjadi contoh yang baik. Atau saat itu aku menjadi munafik dengan merazia murid-murid yang tidak memakai dasi, sabuk, ataupun topi. Aku tidak suka lingkaran ini. Kemudian kutinggalkan.


Menjadi kakakku tidaklah mudah. Tidak pula menyenangkan. Karena itu bukanlah kehidupan yang aku inginkan.

Kita hanya perlu menjadi diri sendiri. Bukan berusaha menjadi siapa-siapa di luar diri kita. Terlebih saudara sendiri yang mungkin sering dijadikan bahan pembanding.

Sedarah tak mesti searah. Tiap individu memiliki selera yang berbeda, meski lahir dari rahim yang sama. Semestinya, kita tidak perlu melihat saudara kita lebih keren, lebih berhasil, lebih baik, lebih cantik, atau lebih-lebih lainnya yang membuat kita memandang rendah kepada diri sendiri. Setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Jika mungkin saat itu aku melihat kakakku sebagai sosok yang sempurna dan memandang hina diriku sendiri, itu karena aku tidak bersikap adil. Ya, aku tidak bersikap adil kepada diriku sendiri. Aku hanya memandang kelebihan kakakku dan membandingkannya dengan diriku yang kerap kupandang kekurangannya. Sangat-sangat tidak adil.

Kalau pun kita ingin melihat kelebihan seseorang, kita mesti melihat pula kelebihan diri sendiri. Dan kalau pun kita ingin melihat kekurangan seseorang, kita mesti melihat pula kekurangan diri sendiri. Agar kita bisa terbebas dari rasa tidak percaya diri dan menganggap diri tidak layak, merasa kurang, dan menganggap kehidupan orang lain lebih menyenangkan. Jika dengan orang lain saja yang jarang bertemu melelahkan, bagaimana dengan saudara kandung sendiri?

Hal ini pun, semestinya para orang tua lebih membuka mata pada perbedaan di antara anak-anaknya. Mengakui bahwa anaknya memiliki ketertarikan, bakat, dan potensi yang berbeda. Juga penting untuk tidak memaksakan kehendak supaya anak mengikuti jalan yang telah dipilihkan. Biarlah anak-anak itu memilih jalannya sendiri. Peran orang tua hanyalah mendukung dan mengayomi. Mendukung dari berbagai aspek, seperti mental dan finansial. Mengayomi dari berbagai sisi.

Sedarah tak mesti searah. 

Judul tulisan ini adalah jenis kelamin yang sempat kubenci.


Namun aku adalah seorang perempuan.

Menjadi seorang perempuan pernah begitu aku sesali. Segala yang menempel di tubuh dan jiwaku sebagai seorang perempuan selalu aku sangkal dan musuhi. Rambut panjang, pantat montok, payudara yang menumbuh, dan femininitas.

Aku tak pernah sudi merawat rambutku hingga panjang dan menjuntai seperti perempuan kebanyakan. Pernah kupangkas ia dengan gaya potongan lelaki. Aku merasa keren dan berada satu langkah menuju menjadi laki-laki. Tidak hanya itu, aku pernah menekan kuat-kuat payudaraku. Mengapitnya agar tak terlihat tonjolan itu. Rok, gaun, adalah pakaian yang aku benci dan hindari. Aksesoris pernak-pernik tak pernah bertengger di tubuhku. Tidak lupa, warna merah jambu membuatku jijik melihatnya. Aku menjauhkan segala hal yang menurut masyarakat berbau feminin.

Beberapa temanku di sekolah memanggilku dengan sebutan "Abang" karena aku terkenal dengan ketomboianku. Dan beberapa orang menyangkaku sebagai seorang lesbian. Tidak menyukai laki-laki karena memendam kebencian yang teramat kepada lelaki.

Menjadi seorang perempuan pernah begitu aku benci, ketika bapakku menginginkan seorang anak laki-laki.

Tuhan Yang Maha tidak diketahui alasan di balik ketentuan-Nya menakdirkan kesemua saudaraku berjenis kelamin sama: perempuan. Menjadi seorang perempuan adalah sebuah penyesalan dan kesalahan baginya, bagi seseorang yang kukira akan paling menyayangiku sebagai seorang perempuan. Namun baginya, anak laki-laki memiliki nilai yang lebih tinggi. Anak lelaki miliknya adalah "segala-galanya". Sampai aku tak tahu apakah aku masih bisa menganggapnya laki-laki yang penting di hidupku ketika kehadiranku tak menjadi penting baginya hanya karena jenis kelaminku?

Dan kesemua usahaku yang tolol itu dilatarbelakangi dengan harapan akan dapat menggantikan anak laki-laki yang begitu ia harapkan. Menunjukkan kepadanya bahwa aku bisa menjadi apa yang ia mau. Meski aku tidak terang-terangan menyampaikan maksudku itu.

Lama kelamaan pun aku muak. Haruskah aku begitu? Haruskah aku selalu membenci diriku, membenci identitasku ketika yang kuusahakan hanyalah kesia-siaan?

Namun, akhirnya aku menemukan keistimewaan sebagai seorang perempuan yang tak dimiliki kaum adam. 

Seluruh tubuh perempuan seperti seniman yang menghasilkan banyak karya. 


Tujuh tahun lalu aku bukanlah seorang anak perempuan yang dekat dengan ibunya.
Tujuh tahun lalu aku dan mamaku hanya dipenuhi pertengkaran.
Tujuh tahun lalu kami saling salah paham.

Aku tidak terlalu ingat dan menyadari betul kapan persisnya aku jadi akrab dengan Mama dan "kenapa". Mula-mula dua jenis pertanyaan itu selalu aku tanyakan dalam diri ketika sedang melamun dan baru menyadari berbincangan kami yang semakin hangat dan semakin lama kami jarang teribat pertengkaran.

Kapan? Dan mengapa? Apakah tiba-tiba?

Saat itu, ketika aku menjadi remaja tanggung, semua ucapan Mama adalah salah dan bohong belaka, bagiku. Apa yang dibicarakannya tak ingin aku dengar dan percayai. Aku seperti musuhnya yang terang-terangan menyangkal dan menentangnya. Hubungan kami hanya dipenuhi kesalahpahaman dan kemarahan.

Aku ingat betul, aku pernah marah tak beralasan kepada temanku yang selalu mendengarkan ucapan ibunya. Ia selalu bilang, 
"Kata ibuku.." 
"Kata ibuku..."
"Kata ibuku..."
yang membuatku geram.

Setelah aku telusuri lebih dalam perasaanku, marah ini bukanlah marah biasa. Ini adalah kecemburuan yang dibalut kemarahan. Rupanya aku cemburu padanya yang memiliki hubungan baik dengan ibunya, yang pada saat itu aku melihat Mama condong kepada kakak dan adikku. Aku cemburu pada siapapun yang terlihat akrab pada ibunya, bisa berkomunikasi lancar dan dipenuhi tawa hangat, seperti yang kakak dan mamaku lakukan. 

Aku jadi berpikir, apakah yang sebenarnya menyebabkan hubunganku dengan mama tak kunjung membaik dan hangat?

Rupanya kami saling salah paham. Rupanya kami tak saling mendengarkan.

Aku kadang bingung harus menyesali atau mensyukuri tindakan jahatku di masa silam. 

       




        Belum pernah dalam hidupku merasakan ketakutan dan kekhawatiran sebegininya. Berjuta-juta kali lipat dari ketika kecemasan tak beralasan menyerangku. Segala pikiran buruk yang datang dan menumpuk berusaha aku sapu keluar ruang tenang. Tetap berperilaku seperti biasa begitu amat aku paksa, dan ketika berhenti dari kesibukkan duniawi apapun yang buruk kembali menggentayangi.

        Melihat Mama memasuki ruang isolasi tubuhku bergetar bukan main. Tanganku tak mampu melambai saking gemetarnya, saking aku tak memiliki daya untuk berbuat apa-apa. Aku terperangah dengan apa yang baru saja aku dengar. Benarkah kesemua itu? Namun hari itu aku melihat kelelahan yang sangat lelah di mata Mama yang telah lama ia simpan seorang diri. Tubuh yang selalu sigap melakukan sesuatu, tubuh yang bisa melakukan banyak hal itu, seperti sebuah pohon yang diterpa hujan badai. Ambruk. Tumbang.

Aku takut.

Sangat takut.

        Sepanjang jalan aku pulang, tanpa membawa mama di jok belakang, dengan meninggalkan Mama menghuni ruang menyeramkan, air mataku mengalir di tengah kemacetan yang selalu aku terobos di tiap celah yang dapat aku lewati. Di kanan jalan atau kiri trotoar. Aku tidak mampu membayangkan hidup yang masih berantakan ini tanpa sesosok Mama, aku tidak bisa membayangkan betapa halusnya kepingan hatiku jika itu terjadi. Semakin dibayangkan, semakin menyakitkan, semakin banyak bulir-bulir air mata berjatuhan. Semakin kencang kepalaku menggeleng.

        Seketika hanya ada Mama dalam kepala. Dosa-dosa yang kuperbuat padanya, kelembutan hatinya, dan ketegaran jiwanya yang aku tak mengerti mengapa bisa. Begitu banyak luka yang telah ia tambal, seratnya finansial yang ia beri pelumas, dan keinginan buah hati yang satu-satu ia penuhi. Caranya mencinta dan caranya mengagumi anak-anaknya jelas berbeda. Mungkin memang tidak seperti apa yang dimau, namun tiap ibu miliki caranya sendiri. Bahasa cintanya yang pelan-pelan aku pahami, caranya mengagumi dan merindu yang sedikit-sedikit mulai aku ketahui, sungguh semua itu berterbangan di atas kepala.

        Aku takut tak punya cukup waktu untuk menjadi kebanggaannya.

        Sepanjang jalan itu juga aku meminta dengan hati yang tak pernah setulus itu sebelumnya, "Tuhan, jangan ambil Mama dulu." bahkan aku seperti tak mampu mengucapkan itu, aku tak mau mengucapkan kalimat yang menyeramkan itu. Aku menggeleng dan terus menggeleng. Menaruh asa dalam jiwa dan kepala.



Berangkat dari seorang anak yang rajin belajar dan mengerjakan PR sebelum diperintah, aku paling anti disontekin. Waktu SD aku bisa-bisa bikin bangunan tinggi di samping kanan kiri dan depanku dengan buku catatan pelajaran lain kalau ada teman yang melirik-lirik mencurigakan. Apalagi saat ulangan. Nggak ada sedikit pun celah yang bisa mereka intip.

Walaupun begitu, aku tetap bersedia untuk memberi tahu cara pengerjaan suatu soal ke teman yang bertanya dan niat belajar. Karena mereka masih punya effort untuk mengerjakan sendiri dengan cara yang aku beri tahu. Sebenarnya aku nggak pintar-pintar amat, tapi balik lagi ke atas: ku rajin belajar. Rajin pangkal pandai, bukan?

Hingga akhirnya aku berkenalan dengan Facebook dan gadget sekitar kelas 5 SD. Taraf rajin belajarku menurun. Nggak males banget, masih sesekali belajar, tapi jatuhnya nggak fokus karena pikiranku lari-larian ke mana-mana. Nilai jadi banyak yang turun dan sering sekali HP-ku disita oleh mama supaya aku bisa belajar dengan fokus. Tapi, nggak ngaruh! Malah, aku semakin kepikiran dengan HP-ku itu.

Tahun demi tahun, masuk ke SMP aku semakin jauh dari namanya belajar. Belajar dalam artian baca buku pelajaran seperti yang sebelumnya sering aku lakukan. Mengisi soal di buku LKS di rumah sama sekali nggak pernah. Kerjaanku seharian tiduran sambil main HP. Diomelin sebagaimana bentuk omelan pun nggak mempan, malah cuma bikin aku tambah sebel.

Mulailah aku kebergantungan dengan sontek-menyontek. Iya, kebergantungan, karena sontek-menyontek itu candu. Segala jenis persontekan udah aku lakukan. Mulai dari browsing waktu ujian dan HP-nya aku dudukin atau aku taruh di sepatu, nulis berlembar-lembar materi di HVS dan ketika ujian HVS itu tanpa rasa gelisah sedikit pun aku taruh di atas meja sejajar dengan soal ulangan. Aku ini skeptis untuk nanya jawaban ke orang lain karena belum tentu benar dan orang yang pintar yaaa biasanya nggak mau disontekin (kayak aku dulu) makanya aku tulis materi dan cari jawabannya sendiri.

Perihal ketahuan? Udah seriiing bangeeet. 
Tapi aku kayak bebal aja gitu, nggak merasa bersalah sedikit pun. Malahan aku terlihat nantangin guru yang mergokin dan pasang muka ketus. 

Sampai di saat aku kelas 11 semester 2 dan wali kelasku guru BK. Di kelasku ada yang ketahuan menyontek pakai HP ketika UTS. Saat itu, aku udah mulai jarang nyontek karena mau agak bener aja jadi manusia. Dan kasus itu ada seorang murid yang melapor. Sekelas disidak. Nggak dibentak-bentak sih, tapi justru itu yang bikin aku seketika merasa terketuk. Kurang lebih guruku bilang untuk percaya dan mengandalkan diri sendiri karena orang lain belum tentu benar. Sebenarnya petuah itu udah sering banget aku dengar dulu, tapi baru kali itu rasanya bisa aku cerna dengan baik.
Di akhir, guruku bilang untuk kami semua berjanji ke diri sendiri untuk nggak menyontek. Sadar nggak sadar aku seperti berjanji atau memang udah berjanji untuk berhenti menyontek.

Kalau dipikir-pikir selama ini aku memang skeptis sama orang lain dan udah mengandalkan diri gue sendiri. Tapi, di dalam keburukan. Aku mengandalkan diriku untuk menyontek, bikin strategi sendiri, ketimbang usaha seperti dulu belajar dan mempersiapkan diri untuk ulangan. Dari situ, setiap aku mau menyontek karena aku tahu aku nggak belajar dan nggak tahu apa jawabannya, diriku seakan-akan mengingatkan, "Lu itu kan diberi otak juga, semua manusia punya otak yang sama." 

Albert Einstain sebegitu geniusnya aja cuma menggunakan 2% kemampuan otaknya. Gimana dengan aku yang nggak menyandang gelar genius ini, berarti aku cuma menggunakan otakku 0,000000 nol-nol satu sekian. Berarti aku menyia-nyiakan pemberian Tuhan dan organku sendiri.

Sekitar semester lalu, setelah bertahun-tahun aku menyontek lagi karena saat itu aku ambil kerja part time dan capek banget rasanya nggak punya waktu untuk belajar. Rasanya berdosa banget. Kayak habis melakukan dosa besar. Aku ingkar ke diriku sendiri dan nggak mempercayai kemampuanku. 
Sepanjang koridor aku merasa bersalah dan bertekad nggak mengulangi lagi.

Rasanya aneh melakukan hal yang udah lama sekali nggak aku lakukan, terlebih itu hal buruk.



Di tengah malam yang lengang dengan hati yang tak berisikan, aku menjentikkan jemari ini untuk menulis surat, sedikitnya berisi mengenai apa yang kurasa pada tahun ini, bahkan apa yang tak berhasil aku rasakan. Aku mencoba berbicara kepadaku melalui sebuah surat yang mungkin akan mengingatkanku di waktu yang akan datang: apa-apa saja yang sudah tertinggal dan tergantikan, apa-apa saja yang membiru dan membaru.


Apa kabar?

adalah bentuk pertanyaan sederhana yang paling tidak bisa kaujawab dengan jujur. Sebuah tanya 'apa kabar' seperti memiliki magnet kata 'baik' yang mesti kau jadikan jawaban, tidak peduli bagaimana kondisimu saat itu. 

Apa kabar diriku? Mengapa tak kunjung jujur pada dirimu, pada hatimu, pada ibu jarimu, pada apapun yang menjadikanmu utuh sebagai sebuah tubuh? Sebagai seorang manusia?

Kini kau tahu menjadi manusia setiap harinya tak pernah mudah dan meringan. Kesulitan dan keberatan akan menimpa punggungmu yang telah bungkuk di usia muda. Sejak usia kanak-kanak. Namun dengan adanya angka yang bertambah setiap tahunnya dan belum tertuliskan di nisan, dengan adanya lilin yang masih kau tiup setiap tahunnya, dengan adanya kue keju yang masih kau makan setiap tahunnya, dengan adanya surat dari ibu yang kau baca setiap tahunnya, dengan adanya kado yang kau terima setiap tahunnya, menandakan betapa semakin kokohnya punggung dan bahumu, betapa semakin lapangnya dadamu, betapa semakin ajeknya kakimu, betapa semakin arifnya jiwamu, betapa semakin kuatnya dirimu memilih bertahan di tengah terpaan yang selalu saja mampir.

Untuk diriku, jiwa yang belum bisa disebut pasti seperti apa bentuknya, jiwa yang selalu samar ketika hendak dipotret, jiwa yang selalu berganti-ganti setiap hari, setiap pekan, dan setiap bulan. Maaf aku kerap menggantimu dengan jiwa orang lain yang aku tidak kenal, yang aku idam-idamkan. Kupikir menjadi mereka mengasyikkan, kupikir menjadi apa yang aku mau begitu memuaskan. Rupanya tidak. Namun terima kasih, untuk jiwa yang terus mencari jati dirinya, jiwa yang selalu berusaha pulang setelah melalui perjalanan panjang, jiwa yang tak ingin kehilangan keasliannya, karena itu yang tidak akan pernah bisa ditiru.

Untuk diriku, raga yang kerap kehilangan minat pada apa yang sebelumnya melekat, raga yang kerap bermalas-malas membaca lembar buku, raga yang kerap takut terlibat interaksi dengan orang-orang. Maaf aku masih sering kalah dengan semua rasa itu, masih belum bisa merangkulnya dan tetap berusaha melawan dan tak menjadikannya teman. Namun terima kasih, untuk raga yang bergegas bangkit ketika tahu telah menghabiskan banyak waktu dengan kesia-siaan, raga yang mencicil huruf-huruf di lembar-lembar kertas untuk dilahap habis, raga yang membalas pesan dengan gurauan-gurauan natural, karena tanpa itu semua tidak akan terjadi apa-apa.

Untuk diriku, pikiran yang tak terkendali melayang-layang jauh ke suatu tempat yang tak seharusnya, pikiran yang mengandai-andai sesuatu di belakang bisa kubelokkan untuk menghindari hari ini. Maaf bayang-bayangku masih tertinggal di sana dengan separuh hati yang tergeletak seluruhnya retak, masih sulit bagiku memaafkan sepenuh hati karena memang aku tak memiliki hati yang penuh dan utuh. Namun terima kasih, untuk pikiran yang tak egois yang tak hanya menampilkan sisi negatif dan turut membeberkan sisi positif, pikiran yang menyaring segala yang kulihat dan kudengar untuk menjadi sesuatu yang matang dan kujadikan nalar, pikiran yang selalu mau menemukan sisi baik dari segala hal, karena itulah yang membuatmu sesungguhnya menjadi tenang.

Untuk diriku, hati yang tak merasakan apa-apa, hati yang tak tahu kecewa atau tidak, senang atau tidak, marah atau tidak, gelisah atu tidak, bahagia atau tidak, hati yang sulit dijabarkan apa kondisinya, hati yang masih banyak lebam di sana. Maaf aku jarang mendengarkan keluh kesahmu, aku jarang mendengarkan apa maumu, aku belum pandai membaca arti dan menemukan nama rasa yang cocok untuk apa yang kau rasa. Namun terima kasih, untuk hati yang tetap kelihatan tenang, hati yang tak menghalau kekeruhan dan menimpa dengan air yang jernih, hati yang berusaha memberikan cinta dan mengembalikan cinta di tengah-tengah luka yang masih menganga, karena tanpa cinta mati sudah empati dan simpati terhadap sesama.


Mungkin banyak yang tak terungkapkan, yang masih menjadi residu di aspek-aspek tertentu. Setidaknya, aku bisa mengucapkan itu kepada diriku atas ketidakjelasan yang masih menyangkut di relung. 

Segala sesuatunya penting untuk dijadikan sebuah pelajaran dan pengalaman. 

Semoga kau tidak lelah dengan pengalaman dan pelajaran yang tak melulu indah dan mengasyikkan. Namun, kau jadi banyak tahu bagaimana caranya mengatasi sesuatu, di depan sana.


Terkasih,


dirku.

 



Menjadi manusia adalah serangkaian lelah yang mesti ditempuh. 

Menyusuri tempat baru, mengerahkan segala energi untuk beradaptasi
Menggulati hobi baru, mengerahkan waktu untuk mencari tahu
Mencintai seseorang baru, mengerahkan diri untuk mengerti 

Rutinitas, kegiatan berulang yang kerap melelahkan dan membosankan. Keduanya bertaut membentuk maut. Hidup adalah perjalanan. Mustahil kita tak diterpa lelah di dalamnya. Seperti dalam perjalanan mudik. Kita lapar, kita ingin kecing, kita lelah, kita ingin tidur.

Maka dibuatlah rest area. 
Tempat kita menepi dari segala kelelahan dan kebosanan. Tempat kita mengisi energi kembali.

Sesederhana mudik yang setahun sekali, bagaimana hal yang lebih sulit? Hidup kita? Perjalanan penuh lelah yang tak bersudah ini?

Beristirahatlah, ciptakan rest area versi kita.
Entah di tempat tidur dengan durasi tidur yang lebih panjang dari biasanya, di sebuah kafe dengan alunan musik dan secangkir kopi, berbaring di padang rumput, mendengarkan musik sambil bersepeda, atau sekadar menyaksikan kendaraan berlalu lalang di sisi jalan.

Terserah di mana, terserah dalam bentuk apa.
Yang jelas, kita semua butuh istirahat. Di jalan penuh lelah ini selalu ada persimpangan untuk kita berhenti sebentar dari telusuran-telusuran ke tujuan.

Kita butuh istirahat.
Newer Posts
Older Posts

Pemilik Ruang


Halo, selamat datang di Ruang Tenang! Senang mengetahuimu mengunjungi ruanganku, tempat aku melarikan diri dari kegaduhan dunia. Di sini kau akan bertemu sekat-sekat ruang dalam kepalaku yang begitu sesak menjadi untaian kata-kata.

Mari Berteman

Labels

Berdikari Jurnal Karya Teman Hidup

Blog Archive

  • ▼  2022 (9)
    • ▼  September (1)
      • Rangkul Bayangan (Sebuah Usaha Mendekati Diri Send...
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (6)
  • ►  2021 (1)
    • ►  Desember (1)
  • ►  2020 (11)
    • ►  Desember (3)
    • ►  September (2)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2019 (5)
    • ►  November (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Februari (2)
  • ►  2018 (5)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (1)
    • ►  April (2)
  • ►  2015 (10)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2014 (3)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (2)


FOLLOW ME @INSTAGRAM





Created with by BeautyTemplates | Distributed by blogger templates