twitter facebook instagram pinterest linkedin

Sky Cantiki

Menulis untuk hidup

       


Aku hampir tak percaya, tetapi kenyataan ini telah menyelubung ke dalam mimpi sebelumnya. Aku sempat takut, risau, dan cemas akan hal yang semesta kirimi. Adakah bencana yang akan menghunjam dadaku lagi?
Tetapi batin dua orang yang telah terikat sekian lama mana bisa didusta? Aku merasa banyak lakunya yang berbeda—tidak seperti biasanya. Keceriaan yang dahulu kudambakan, waktu disusul waktu kian menipis sampai di titik aku tak merasakan kehadiran.
Sekujur tubuhku melemas, lidahku kelu, dadaku sesak, kepalaku pusing, bulir-bulir bening ikut merayakan kehancuran dan kekecewaanku. Benarkah? Tidakkah ada satu orang yang hendak membangunkanku dari ini semua? Atau memang aku sudah berada di alam nyata di kenyataan yang begitu sulit aku terima?
Jika aku saja sulit, bagaimana dengan dia? Bagaimana ia melewati semuanya seorang diri dalam kurun waktu cukup lama, bahkan bagiku itu sangat lama?
Banyak tanya yang melesat dalam kepala, tetapi aku belum sanggup bertanya. Waktunya belum tepat. Ia masih harus istirahat dari segala kekejaman dunia yang menjerat.
Ini ketakutanku yang tidak pernah aku ungkap dari awal pertama mendapatinya bangga melakukan sesuatu yang tidak kuduga. Hari itu aku melemas, pecah sudah bayangannya dari deret panut. Sejak hari itu aku memilih abai, tak sedikit pun menyelipkan wejangan hangat karena memang tak ada celah untukku menyelip. Seperti tidak ada aku. Tidak ada aku. Tidak ada di hidupnya. Aku sempat berpikir bahwa memang seharusnya manusia menjalani hidupnya sendiri-sendiri, tanpa campur tangan siapapun. Tetapi aku keliru, tidak semua orang bisa melakukan itu. Tidak semua orang bisa mempertanggungjawabkan apa yang telah dilakukan. Tidak semua orang bisa. Tidak semua orang mau.
Dan kini aku hanyut dalam ketahuan itu. Dalam sesuatu yang paling aku takuti, dalam sesuatu yang terlanjur terjadi. Tiap detik tak pernah lepas dari ingatanku. "Sudahkah mereka makan? Bahagiakah ia hari ini? Apa saja yang telah ia lewati hari ini? Di manakah dan bagaimana kondisinya?" Banyak, banyak sekali yang ingin aku tanyakan, tetapi aku tak mampu. Aku tidak sanggup mendengar jawabannya yang pilu. Suaranya yang bindeng di seberang telepon membuatku ingin menangis tiap kali mendengarnya—tiap kali membayangkannya. Namun kucoba sekuat tenaga agar tak terdengar lirih, bergetar, atau suara yang begitu ia kenali yang dengan mudahnya ia tanya "Ada apa?".
Aku gagal. Dalam perihal kepedulian aku gagal. Perkara menjaga aku gagal. Perkara memperhatikan aku gagal. Aku menyesali ini semua terjadi.


Suatu hari di awal jeda panjang, di penghujung malam aku berpikir, "Mengapa hari ini tidak seperti yang kuingini? Tidak juga ada satu dari banyaknya kegiatan yang telah disusun rapi di atas kertas dan mengisi kepala.". Bukankah aku telah berjanji, berjanji, berjanji pada diri ini untuk memperbaiki dan mengisi kosong-kosong dengan kegiatan yang lebih berarti?

Tetapi, aku mengingkari. Mencederai perasaanku sendiri. Mengabaikan semangatku yang menjulang tinggi di awal hari.

Hal-hal kecil di rumah tak bisa aku bantah. Pinta Mama untuk mengantar adik kecilku ke sekolah. Menggiling pakaian yang menumpuk di mesin itu kemudian menggantungnya di bawah sinar matahari yang malu-malu. Bayi bulat yang senang makan itu juga turut menggunakan waktuku, menyita hal-hal yang ada di kepalaku yang terpaksa aku kesampingkan.

Banyak yang menyenangkan, lebih banyak yang melelahkan.

Satu, dua, tiga hari berlalu tanpa permisi, begitu saja melewati kepalaku. Sampai kepala ini terisi dengan pertanyaan, "Kapan memulai rencanamu?". Tetap hanya menjadi pertanyaan di penghujung malam.

Buku-buku yang kubawa hanya tersentuh dan tak sempat terbaca. Menggeletak di atas kasur, sebagai teman tidur. Pagiku tanpa menditasi, tanpa peregangan dan lari kecil seperti yang kurencanakan, tanpa membaca buku dan secangkir kopi maupun teh, tanpa menulis puisi, tanpa membalas pesan-pesan yang masuk.

Rencana hanyalah rencana, jika tanpa ada tindakan apa-apa.
Macam-macam distraksi di depan telah menunggu dengan jumlah yang banyak sekali. Untuk menghancurkan diri dan menjadikan kita di sini-sini saja. 




2 Januari 2020, tanggal rilis film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini. Ketika aku tahu, aku gegas memesan tiket. Pokoknya aku harus nonton di hari pertama. Baik, pukul 17.00 WIB di Lotte Cinema Fatmawati.

Di awal-awal aku masih tidak mengerti secara keseluruhan karena alurnya bolak-balik, aku harus mencerna baik-baik. Masa kecil dan masa kini silih berganti dengan tokoh berbeda yang membuatku sedikit bertanya.

Di pertengahan aku mulai cukup mengerti dan emosional. Menempatkan posisi menjadi Aurora, si anak tengah yang banyak diam, cuek, tapi sebenarnya penuh luka. Keberadaannya seolah tidak penting, tapi ia bebas melakukan apa-apa yang ia mau, salah satunya berkarya. Ia sangat berbakat, tapi keluarga tidak begitu meliriknya, pun mengapresiasi sesuai dengan yang ia inginkan.

Seketika aku mengingat diriku beberapa tahun mundur, di mana aku merasakan persis rasanya menjadi Aurora. Aku anak tengah, banyak diam. Sekali bicara akan meledak, kalau tidak begitu tidak akan didengar. Aku ingat persis rasanya tak dekat dengan siapa-siapa. Sendiri. Di dalam rumah yang seharusnya penuh interaksi hangat, sekujur tubuhku dibekukan keheningan dinding-dinding kamar. Tidak ada yang bisa kuajak bicara, tidak ada yang mau menanggapiku dengan tulusnya. Bincang-bincang hangat tak pernah memeluk tubuhku yang kedinginan. Aku mendekam di kamar. Berinteraksi pada langit-langit, bantal, dan selimut yang satu-satunya yang masih memberi hangat. 

Terkadang aku berpikir, aku harus menjadi siapa untuk bisa didengar, untuk bisa dianggap ada.
Aku tak pernah menyempil di tengah-tengah tawa mereka yang gemanya bisa terdengar sampai kamar yang terkunci. Kamarku seperti gudang tak berpenghuni yang bernyawa. Aku seperti benda tak kasat mata di rumahku sendiri. Berkeliaran di ruang tanpa tegur sapa, gerak-gerak tubuhku saja yang menghasilkan suara.

Apakah aku ini tidak cukup layak untuk dilibatkan percakapan atau untuk sedikit diberi perhatian
Aku bertanya-tanya apa yang menjadi pembeda. Atau memang segala yang ada di diriku ini dipenuhi keanehan, hal-hal yang tidak bisa diterima nalar.

Emosiku, semua tercurah dalam tulisan. Sebuah karya yang tidak menjadi apa-apa. Yang tidak disukai siapa-siapa, pun dengan diriku sendiri. Tapi, aku tetap menulis, karena dengan itulah caraku bertahan hidup. Menulis adalah subtitusi dari bibirku yang tak pernah terlibat diskusi atau cerita-cerita kecil tentang sekolah, tentang perasaan lelah, tentang diriku yang semakin lama semakin tak terarah. Hanya dengan menulis aku melanjutkan hidupku. Kertas adalah telinga paling setia. Segala resah atas ketidakpantasanku tercurah. Ia tak membantah atau menganggap perasaanku sebagai gelas pecah: tidak berguna.

Aku menangis. Terus menangis mendengar kata tiap kata yang Aurora katakan. Terlebih pada kalimat;
"Kalian sudah kehilangan aku."
Iya, mereka kehilanganku. Keberadaanku semu. Bertahun-tahun aku hidup di rumah dalam keterasingan, dalam ketidaknyamanan.

Kasih dan perhatian yang seharusnya dibagi rata, dirampas mereka. Sulung dan bungsu menikmati dengan cuma-cuma. Sedangkan aku mati-matian melakukan segala tindakan demi pujian, demi apresiasi yang tak kunjung kudapati. Seharusnya tak perlu ada aku di dunia kalau mereka tak memangkuku sama. Tak mengecek suhu tubuhku ketika musim hujan tiba, tak menanyai bagaimana hari-hari yang kujalani, tak disuguhi pereda panas ketika aku demam. Semua kupikul sendiri, meski harus merangkak perih.

Aurora berhasil membangkitkan pilu yang semula tertidur lelap dalam paksaan. Yang kupaksa tidur karena usiaku telah dewasa. Sedikit-sedikit rasa masih ada. Masih bertanya-tanya.

Aurora juga berhasil memberi tahuku betapa kuatnya aku dulu, betapa semuanya telah kulalui seorang diri. Tanpa meminta uluran tangan dari siapa-siapa. Betapa semuanya semenyakitkan itu, betapa aku dililit rasa cemburu. 

Aurora mengingatkanku bahwa aku harus tetap tenang. Sesekali diam, tapi perlu berbicara dan bertindak juga. Aurora memberikanku cermin, melihat luka-lukaku yang membusuk abu-abu yang segera harus dikubur tanah basah kemudian diberi doa supaya tidur selamanya.

Anak tengah ini banyak belajar dari perasaan keterasingan itu, yang begitu menyiksa dan memproduksi air mata pada malam menjelang. Mungkin aku bisa kaya jika berlian yang keluar dari sana.
Tapi aku kini juga kaya, kaya akan rasa dan pengalaman. Aku berterima kasih diizinkan merasakan perasaan seperti itu yang menjadikan aku kini, yang membentuk rasaku sekarang.

Terima kasih diriku, sudah bertahan, sejauh ini.

Terima kasih karena telah menjadikan segala kesakitan sebagai bahan pembelajaran.



Aku mengembuskan napas lega. Akhirnya 2019 berakhir dan aku masih tetap bertahan. Meski kutahu, aku tidak sepenuhnya bisa bernapas lega, karena masih banyak hal di depan yang aku tidak tahu yang aku harus hadapi. Tapi paling tidak, aku tahu bahwa apa yang harus aku lakukan di depan nanti. Bagaimana menghadapi ini, menghadapi itu. Aku sudah banyak belajar dan latihan di tahun lalu.

Persiapanku cukup matang, cukup rapi dan cukup siap untuk menghadapi segala kendala yang sudah menunggu di sana. Aku tidak berekspektasi tahun ini akan mudah, aku hanya membuat kemungkinan bisa melewatinya jauh lebih besar karena kesiapan yang telah kulakukan sebelumnya. Demi tidak ada lagi aku yang terpuruk dan hanya meratapi kesedihan serta kegagalanku. Karena itu hanyalah jebakan. Itu hanyalah lubang perangkap.

Aku mempersiapkan diriku dari hal kecil, seperti membereskan kamar dan mendekorasi ulang kamar indekosku. Awalnya cukup sulit dan memusingkan mau kuapakan ruangan sempit ini dengan peralatan yang cukup banyak? Akhirnya aku mencoba untuk membuang dan membawa pulang barang-barang yang tidak begitu sering aku gunakan. Baju-baju yang berwarna mencolok atau yang jarang kupakai, kutaruh di rumah. Kamar indekosku kini jauh lebih rapi dan lega.

Selain itu, aku pun membuat bullet journal, agar segala kegiatanku tersusun rapi dan tidak ada yang terlewat. Tahun lalu, aku sangat kacau, hingga banyak sekali jadwal terlewat dan akhirnya aku keteteran sendirian. Pusing. Lelah juga. Bawaannya hanya ingin tidur dan tidak mau ngapa-ngapin, sedangkan tugas semakin menumpuk. Journal ini sangat membantuku dan memudahkanku dalam melalui hari-hari. Membuatku lebih fokus juga pada sesuatu yang ingin kulakukan kemhdian kutuju.

Aku mulai menulis kembali, ya seperti ini contohnya.
Aku menantang diriku untuk menulis blog setiap hari, tentang ide-ide liarku atau hanya berupa catatan harian atau curahan perasaan yang masih mengendap di palung kalbu. Aku sadar, seorang penulis seharusnya menulis. Setiap saat dan tak ada hentinya. Tidak peduli bagaimana suasana hatinya. Negatif atau positif, senang atau sedih, ya tulis saja. Apa pun itu. Tulis.

Baiklah, aku sedikit memaksa diriku. Karena aku sering lalai dan abai, terlalu dimanjakan oleh diriku. Dan itu menyesatkan. Aku memaksa diriku untuk menaruh barang ke tempat semula dengan segera, tidak menggeletakkannya begitu saja setelah menggunakannya. Karena itu salah satu kebiasaan burukku yang harus sekali kuubah. Harus. Dengan paksaan, aku sedikit bergerak. Hari perhari lama kelamaan menjadi kebiasaan, kemudian jadi melakukan tanpa dipikirkan.

Di tahun ini, aku menyempilkan harapan kecil; aku di kelilingi manusia-manusia baik, berenergi positif, lebih bahagia, sehat fisik dan mental, serta lebih giat belajar.
Paling tidak aku mau perubahan di dalam diriku yang lebih baik, menjadi manusia yang lebih manusia lagi dari sebelumnya. Aku antusias sekali untuk melewati hari-hari, melakukan peranku yang telah Tuhan tentukan bagaimana jalan ceritanya.

Tidak melulu untukku, aku juga meminta kawan-kawanku bisa pulih dan lebih baik dari sebelumnya di tahun ini. Pergerakkan-pergerakkan mereka yang meski kecil akan mendapatkan ganjaran. Karena aku percaya, setiap usaha yang kita lakukan, sekecil apa pun itu, memiliki balasannya tersendiri.

Jangan bosan menjadi orang baik,
Jangan mengharap balas dari kebaikan yang kita usahakan

T u l u s

Nanti jalanmu dipermulus.



Tahun telah berganti. Kini hari keenam di Januari. Seharusnya aku menulis ini tepat pada malam pergantian tahun, tapi entah kenapa belum ada kemauan. Ini juga jadi salah satu pelajaran bagiku bahwa untuk melakukan sesuatu yang (kuanggap) baik tidak perlu menunggu sampai aku mau dan siap. Dan di hari ini aku memaksa melakukannya. Rupanya diriku harus diperlakukan lebih keras olehku supaya tidak stuck di situ melulu.

Tahun 2019 bisa dibilang tahun yang begitu melelahkan, banyak sedihnya, banyak kacaunya. Jatuh dan bangun tidak seimbang, terlalu banyak jatuh.

Kehilangan masih menyapaku di tahun itu. Seorang yang kuanggap menjadi satu-satunya yang tersisa dari SMA, rupanya tumbang juga. Kepergiannya abu-abu, aku juga tidak meminta penjelasan yang perinci. Biarkan saja jika ia memilih pergi. Aku tidak mau menarik-narik dan meminta dengan sangat untuk menetap. Aku tidak lagi memiliki energi untuk itu, dan menurutku aku tidak lagi harus berperilaku begitu. Semakin ke sini aku semakin sadar bahwa bukan tugasku untuk membuat mereka yang ada di hidupku untuk menetap, itu adalah pilihannya.

Sepi.
Itu yang paling membekas. Tahun 2019, pertama kali aku keluar dari rumah. Tinggal sendiri di kamar indekos yang kudekor sebisa mungkin agar membuatku nyaman dan merasa di rumah. Mula-mula aku sangat bahagia. Bebas ke sana-ke sini sesukaku, menjelajah ruang-ruang yang beluk kupijak. Tapi, rupanya tidak sebahagia itu. Ke mana-mana sendiri tidak melulu menyenangkan, aku sadar aku butuh teman. Aku tetap manusia sosial yang butuh berbincang dan tidak merasa sendirian.


Kecemasan yang kerap menggentayangiku. Itu semua bagai tali simpul yang melilit leherku, atau sebuah silet di atas nadiku. Mematikan. Perlahan-lahan.



Dulu sempat berpikir kalau Instagram itu toxic abis. Banyak sekali komen-komen jahat, memamerkan kekayaan dan apapun yang ada di sana. Sampai beberapa bulan buka Instagram hanya kalau ada notifikasi selebihnya tidak mengunggah foto apapun yang biasanya sering sekali. Tapi semakin ke sini sebenarnya kita sendiri yang memagari diri, bahkan untuk akun media sosial milik kita. Kita yang kendalikan itu semua dan tidak membiarkan satu orang pun turut campur tangan. Aku mulai berhenti mengikuti akun-akun yang sekiranya membawa dampak buruk untukku, baik dalam diri maupun di luar. Dari dalam, contohnya rasa iri, dengki, dan marah melihat orang-orang yang lebih sukses dariku. Dari luar, contohnya sampai akhirnya aku membuat perubahan diri dan diet habis-habisan untuk mencapai berat badan yang ideal, lagi-lagi karena terpengaruh dan menelan semuanya bulat-bulat.

Sampai fase di mana aku lebih bijak menggunakan media sosial, aku tidak lagi berkomentar manis di foto orang yang sebenarnya menurutku biasa saja. Tapi karena mereka sering -mengomentariku dengan puji-pujian, akhirnya aku balik mengomentari mereka. Jatuhnya seperti balas budi yang diharuskan. Aku mulai berhenti melakukan itu. Mencoba menyukai foto-foto atau hal-hal yang memang sekiranya menurutku bagus dan layak. Bagus dan layak itu hanya di mataku, mungkin di mata orang lain berbeda. Setelah sekiranya aku membersihkan akun media sosialku, kemudian aku mulai mengikuti akun-akun yang berkonten baik yang mengedukasi, seperti info-info pendidikan, kepribadian, mental health, sastra, dan hal-hal positif lainnya.

Semakin banyak aku membaca, semakin sadar aku akan banyaknya kekurangan dan ketoledoranku atas memperlakukan sesama manusia. Banyak sekali hal-hal yang aku sadari semenjak itu, semenjak memutuskan diriku masuk ke lingkaran yang lebih positif. Aku pun menyadari kesalahan-kesalahanku di masa lalu yang mungkin memperlakukan mereka tidak semestinya, tidak sesuai dan jauh dari kemanusiaan. Mulai dari situ aku berpikir, aku tidak mau menjadi aku yang dulu. Dan bagaimana, ya, caranya untuk aku bisa memperlakukan mereka dengan baik? Bukan hanya yang aku kenal, tapi semua manusia, siapapun mereka.

Aku diberkati dengan kemampuan yang sejak Sekolah Dasar ada. Orang-orang senang bercerita kepadaku. Mereka bilang aku pendengar yang baik. Mereka bilang aku bisa membuat mereka lebih tenang. Mereka bilang bercerita denganku begitu menyenangkan. Aku memang senang sekali mendengarkan cerita orang. Saat aku kecil Mama selalu bercerita apapun tentang kehidupannya, alih-alih menanggapi aku justru tertidur. Aku suka sekali mendengar cerita, hangat rasanya, seperti ada jiwa yang terikat. Intim. Begitu sepanjang masa sekolahku, aku selalu menjadi tempat cerita dan senang menjaganya agar tidak keluar dari mulutku kemudian kubeberkan. Tidak. Itu bukan aku. Yang aku adalah; memikirkan yang terjadi pada mereka kemudian kuanalisis kemudian kupetik pelajaran di dalamnya.

Masuk ke ranah dewasa, jiwa sepi rasanya semakin menguasai. Ini hanya aku atau mereka juga merasakan? Aku bertanya-tanya. Mungkin hanya aku, karena tidak memiliki pasangan. Mungkin mereka bahagia. Rupanya tidak. Beberapa teman dekatku bercerita, meski ia miliki pasangan sepi pun masih menyelusup ke relungnya. Aku bertanya pada diriku, bagaimana bisa? Apa yang menyebabkan itu semua?

Suatu waktu, aku iseng sekali. Tidak ada kegiatan, lalu kutanya mereka di Instagram. Kutawarkan mereka untuk bercerita. Satu-dua dan lama-lama semakin banyak. Aku terkejut kali pertama membaca cerita-cerita mereka. Pilu. Sakit rasanya. Ternyata banyak terluka. Ternyata bukan aku saja. Ternyata semua manusia memiliki sakitnya sendiri. Aku, remaja di awal dewasa terkejut menyadari betapa memang hidup senang sekali memainkan hati manusia. Diobrak-abrik. Aku, dengan sedikit pengalamanku, berusaha untuk memberikan sedikit penghangat dan solusi melalui kata-kata agar mereka tidak merasa sendiri. Agar mereka kuat menjalani. Agar mereka tahu aku ada kalau mereka butuh. Agar mereka tahu bahwa orang asing bisa sebegitu pedulinya.

Aku tidak rutin melakukannya. Karena aku juga manusia yang memiliki luka, masalah dan urusannya sendiri. Ketika kondisiku juga sedang tidak baik-baik saja, aku tidak berani untuk menenangkan mereka. Aku tidak berani untuk bertanya, bagaimana harimu? Karena tidak memiliki energi yang cukup untuk melakukan itu. Aku tidak ingin sekadar bertanya, setelah tahu kemudian aku hilang tidak menanggapi lagi karena aku tidak memiliki energi yang cukup dan enggan memaksakan diri. Itulah mengapa, tidak aku lakukan secara rutin dan terjadwalkan. Aku kerap hilang, menarik diri dari khalayak, tidak tampil di mana-mana ketika aku sedang bersedih, ketika hatiku berkabung. Aku tidak mau energi burukku mereka serap dan pindah ke dalam diri mereka. Aku tidak lagi mau menjadi orang marah dengan kata-kata yang kasar. Aku tidak lagi mau menjadi orang yang sedang lelah kemudian mengeluh dengan kata-kata yang memengaruhi. Aku tidak lagi mau menjadi orang yang ketika bersedih kemudian menyalah-nyalahkan hal yang membuatku sedih.

Aku memilih begitu demi tidak ada energi negatif yang diserap orang lain dariku. Aku akan mengeluarkannya tanpa harus diserap oleh siapa-siapa. Setelah jauh merasa lebih baik, aku akan hadir kembali untuk mereka yang mungkin masih patah hatinya, mungkin masih sedih, mungkin masih tidak tahu harus kemana dan cerita pada siapa. Aku ada. Aku datang dengan menanyakan mereka, apa yang begitu menyakitkan yang sedang mereka rasakan. Aku akan memeluknya melalui kata-kata. Karena aku sadar, hanya itu yang aku bisa. Sekiranya aku ingin tulisanku hangat di jiwa mereka, menjadi pembangkit semangat dan yang paling penting mereka tidak merasa sendirian.

Aku senang bisa sedikit membantu mereka. Tidak jarang aku terenyuh ketika beberapa dari mereka berkata terima kasih dan sudah jauh lebih baik. Aku tidak tahu mengapa ternyata kalimat-kalimat yang aku tulis sebegitu mereka serap dan berdampak. Itulah mengapa aku tidak mau menuliskan energi negatifku.

Semoga jiwa-jiwa yang terluka, hati-hati yang patah akan segera pulih dan menemukan obatnya.
Semoga mereka akan selalu baik-baik saja.
Semoga ada waktu di mana mereka menyadari bahwa luka mengajarkan untuk menjadi lebih dewasa.
Semoga aku akan selalu ada untuk mereka.
Semoga kita semua selalu dalam kebaikan.


12 Mei 2019

Sembilan tahun yang lalu, tepatnya saat aku duduk di kursi kelas 5 Sekolah Dasar. Ada seorang anak baru pindahan dari Bandung, rambutnya pendek sebahu jatuh lurus dan selalu bergerak-gerak ketika ia berlari. Ia senang sekali berlari. Ia lebih tinggi dariku, lebih kurus juga. Aku tidak tahu awal mulanya bagaimana bisa mengenalnya, tapi yang jelas aku tahu namanya setelah ia memperkenalkan diri di depan kelas. Widya, atau yang kupanggil Didy. Hanya aku yang memanggilnya begitu, yang lain tidak boleh! Ingat, ya?!

Sejak saat itu aku sudah mengincarnya, menjadikan ia target dan dalam hatiku berkata, “Manusia ini akan menjadi temanku.”. Entahlah, aku selalu begitu ketika melihat seseorang yang atraktif. Kemudian akhirnya kami berkawan. Tidak jelas bagaimana awalnya, yang pasti ia masuk ke dalam gengku yang aku ketuai. Rasanya ingin memaki diriku sendiri mengapa dulu terlalu bossy dan bertindak bahwa berkuasa itu perlu dan menyenangkan. Maafkan aku yang di usia Sekolah Dasar sudah sebegitunya.

Suatu ketika gengku runtuh, pecah-belah dan saling membentuk kubu baru. Roda seolah berputar, aku yang tadinya paling berkuasa menjadi yang paling tidak bisa apa-apa. Aku tersisihkan, tidak ada satu pun yang bisa kugenggam, termasuk Didy. Dia sangat membenciku kala itu. Sindiran-sindiran selalu terlontar. Dia dengan kubunya mengintimidasiku. Buku curhatanku yang saat itu kuletakkan di laci mejaku hilang, dugaanku diambil oleh mereka. Dan benar saja. Kudapati buku itu setelahnya sudah dicoret-coret dengan kalimat mengejek. Aku sedih, takut dan entah rasanya hancur. Aku tidak memiliki siapapun. Di saat yang bersamaan, kondisi keluargaku sedang sangat tidak membaik. Aku semakin tak keruan. Anak kelas 5 SD yang malang dan tidak punya rumah untuk berpulang. Buku curhatannya bahkan sudah dipenuhi kalimat-kalimat memuakkan.

Tapi, itu hanyalah cerita Sekolah Dasar.

Mengapa aku bisa memaafkan? Mengapa itu kini menjadi sebuah pembelajaran dan perjalanan yang patut ditertawakan?

Karena Didy bersamaku hingga kini.

Aku dan dia disatukan oleh guru karena ketahuan bermusuhan. Sejak itu kami dipaksa untuk bermaafan, duduk bersama di barisan paling depan. Lambat laun kami saling membutuhkan dan mengisi satu sama lain.

Setelah lulus SD, kami tetap berteman justru semakin dekat. Bahkan hanya dia teman Sekolah Dasarku yang hingga kini masih ada, berkomunikasi dan menjalin persahabatan denganku. Mereka yang dulu dekat denganku, kini justru seperti orang tidak kenal, tidak acuh dan seperti tidak pernah terlibat dalam kesehariannya.

Meski aku dan dia tidak satu sekolah saat SMP, tapi kami tetap menyempatkan waktu untuk bertemu, walaupun tidak setiap saat. Terlebih saat keluargaku memutuskan untuk pindah rumah dan berdampak pada sekolahku, membuat jarak rumah serta sekolahku semakin jauh dari jangkauannya. Tapi, itu bukanlah penghalang besar karena kami masih di kota yang sama. Sepulang sekolah atau di akhir pekan kami memutuskan bertemu. Di KFC dengan uang receh hasil kami menyisihkan uang. Berjam-jam duduk dengan menu yang sudah habis atau sesekali menyeruput es batu yang sudah mencair. Uangnya kami sisakan untuk membayar parkir yang semakin mahal tiap jamnya. Itu tidak terlalu kami pentingkan, cerita dan canda tawa adalah nomor satu. Juga sebagai lem paling rekat di antara kami.
Masa SMP di KFC dengan uang recehan

Setelah kejadian di Sekolah Dasar, aku dan dia tidak pernah lagi terlibat perselisihan. Entah mengapa, rasanya kami semakin lama semakin mengerti satu sama lain. Semakin mengisi dan semakin membutuhkan. Hubungan kami semakin erat. Aku yang moody dengan mudah bisa ia kendalikan.

Saat SMA pun kami tetap berbeda sekolah, tapi itu sudah menjadi hal biasa yang tidak menimbulkan keterkejutan apa-apa atau ketakutan tidak akan bertemu lagi atau menjadi sulit bertemu. Lagi-lagi itu bukan penghalang, kami masih menyempatkan waktu untuk bertemu. Kami masih baik-baik saja dan tidak ada permasalahan apa-apa. Justru kami semakin dekat. Semakin saling menguatkan.

Masa SMA di McD masih tetap recehan


Sampai detik ini aku kuliah dan ia bekerja, kami masih menyempatkan waktu untuk bertemu di sela-sela kesibukan kami masing-masing. bahkan segalanya tidak ada yang terasa berubah. Aku tetap bisa menghubunginya, ia tetap bisa menghubungiku. Kami tetap menjalin komunikasi yang baik. Sesekali curhat mengenai masalah, kami masih saling memberikan solusi dan uluran tangan.

24 Agustus 2018



Aku dan Didy memutuskan untuk bertemu.

Kau tahu? Meski aku tidak menceritakan apa-apa kepadanya tentang kepiluanku atau bercerita namun tak sampai detail, tapi aku sudah merasakan kelegaan hanya dengan berbincang padanya. Energinya merambat masuk dalam tubuhku, seperti gawai yang sedang dilakukan pengisian. Bateraiku ful. Seperti seluruh energiku yang disedot habis-habisan oleh mereka yang membutuhkan, dengan waktu singkat dapat ia kembalikan. Melalui pelukannya yang tidak pernah aku pinta, melalui senyum darinya yang menyimakku saat aku bercerita, semuanya membuatku baik-baik saja. Membuatku percaya bahwa tidak akan ada yang meninggalkanku.

Kuberi ia puisi kecil berjudul Cermin. Serupa dengan julukan yang kuberikan untuknya. Kalau dikatakan cermin adalah teman terbaik yang tidak pernah tertawa ketika aku bersedih, begitulah ia. Itulah mengapa julukan cermin kuberikan kepadanya. Sangat sesuai. Selain itu juga karena aku miliki cukup banyak kesamaan dengannya yang membuat kami terkoneksi saat berkomunikasi. Kutulis puisi itu di depannya karena aku ingin ia tahu bagaimana prosesnya, meski puisi itu sudah lama jadi. Puisi kecil yang tidak ada apa-apanya itu, kulambangkan sebagai piagam penghargaan untuknya karena telah berpengaruh besar untuk hidupku.
Beginilah puisi kecil itu;

Cermin

Cermin bisa meringankan
Beban yang bercokol di tenggorokan
Pertemuan
Percakapan
Melihatnya
Mendengarnya
Terbuka pintu jalan keluar
Serta uluran tangan




Aku selalu menulis dengan tulus, melahirkan kata-kata dari kalbu. Tidak ada yang kulebihkan tidak ada yang kukurangkan, begitulah adanya. Bertemu dah bicara padanya seperti membuka pintu untukku dari segala permasalahan dan di sanalah terletak uluran tangannya. Membantuku, menyelamatkanku.membuka pintu untukku dari segala permasalahan dan di sanalah terletak uluran tangannya. Membantuku, menyelamatkanku.




Sekitar SMP kelas 3 gua ikut tes IQ sekaligus tes kepribadian di sekolah. Selang beberapa minggu hasilnya baru keluar. Kemudian dinyatakan kalau IQ gua masuk kategori superior dan kepribadian gua INTP. Tapi gua nggak ada cikal bakal Einstein karena goblo hitung-hitungan, tapi entah kenapa SMA gua nyasar ke IPA.

Gua nggak tau kapan kepribadian INTP itu muncul, entah dari kecil entah berubah di tengah jalan karena dulu gua belum terlalu paham tentang kepribadian. Lebih tepatnya sih karena gua bodo amat pada saat itu. Iya, bodo amat. Itu yang melekat kuat di darah dan daging gua sebagai seorang INTP.

INTP atau Introversion, Intuition, Thinking, Perception. Sering disebut sebagai ahli logika. Segitu ahli logikanya sampai gua merasa gua nggak berperasaan pada waktu itu. Gimana enggak? Gua sama sekali nggak pernah menganggap manusia itu penting atau gua nggak percaya manusia itu makhluk sosial yang nggak bisa hidup sendiri. Gua yang pada saat itu amat sangat mandiri yang kebablasan, segala sesuatu halnya selalu gua lakukan sendiri. Itu cukup sebagai bukti manusia bukan makhluk sosial. Sampai gua benci banget sama yang namanya kerja kelompok. Dari situ setiap ada tugas kelompok gua yang selalu ambil alih karena gua nggak percaya sama kinerja orang lain yang menurut gua nggak memuaskan.

Selama gua SMP, gua nggak pernah mau berbaur dengan orang lain. Menyapa, senyum, ngajak ngobrol duluan adalah hal yang haram bagi gua. Buat apa? Gua nggak butuh mereka. Itu yang selalu gua pikirkan. Sumpa, kalau ada orang kayak gitu di hidup gua juga gua bencinya bukan main. I hate my old self. Gila. Segitunya gua. Sombong. Gua selalu berpikir, gimana ya orang lain melihat gua waktu itu?

Gua orangnya juga sangat nggak bisa dipaksa untuk mengikuti kemauan orang lain. Atau nanti gua bakalan tiba-tiba pergi menjauh dari hidup orang itu dan bahkan lihat mukanya aja nggak mau. Selama SMP gua nggak ikut satupun organisasi di sekolah, balik lagi gua selalu bertanya "Buat apa?" yang menurut gua itu cuma bikin gua capek, buang-buang waktu, nggak bebas dan terikat pada satu hal yang mengatur. Apalagi gua benci dengan sesuatu hal yang berbau senioritas.

Gua nggak ngerti kenapa dulu hati gua kayak batu, nggak ada getarannya akan suatu hal. Hari lebaran gua biasa-biasa aja, setiap gua buat salah gua nggak mau minta maaf duluan, ada orang nangis selalu gua bilang lebay. Ngapain sih nangis untuk sesuatu hal? Nggak perlu. Bahkan gua nggak bisa inget kapan selama menjadi INTP gua nangis. Setiap ada rasa emosi gua lampiasinnya dengan marah-marah, diem, dan menyendiri. Tapi gua nggak bisa nangis. Gua nggak pernah sudi untuk menangisi apapun.

Bahkan sekalipun gua nggak punya teman mungkin gua bisa survive sendirian, berkat rasa kebodoamatan gua itu. Gua selalu nggak peduli gua punya teman atau nggak, gua bisa ngobrol sama orang atau nggak. Lagi pula isi kepala gua udah cukup berisik karena gua selalu berpikir tentang apapun, kalaupun gua sendiri masih ada pikiran gua yang bisa gua ajak ngobrol.

So, gua nggak butuh siapapun.

Gua bisa sendiri.

Ditambah dengan manusia di sekitar gua yang can't relate. Gua nggak menemukan kecocokan-kecocokan. Intinya, gua benci manusia yang nggak secocokan. Mungkin 1:1000 yang bisa cocok sama gua. Kalaupun berdiskusi gua nggak mau melibatkan banyak orang, dan gua prefer empat mata. Semua introvert pasti merasakan hal yang lelah kalau terlalu lama duduk di kerumunan orang, apalagi kalau kerumunan itu banyak yang nggak cocok. Gua selalu mementingkan 1 orang yang penting cocok, ketimbang 10 orang tapi sama sekali nggak cocok. Lebih baik gua sendiri.
Itulah sebab-sebabnya gua nggak punya teman.

Bisa dibilang gua manusia kayu: kaku parah. Kalau lagi bareng teman gua, terus tiba-tiba teman gua didatengin temannya yang lain, gua seketika diam, nggak ngomong maupun senyum. Gua berpikir, itu bukan teman gua, gua nggak perlu ngajak ngomong dan ngapain juga. Setiap gua lewat depan orang kayaknya gua nggak pernah bilang permisi, selonong aja. Kerjaannya jarang banget salim sama guru, kalau ketemu guru gua muter balik. Gua menghindari hal-hal yang bisa bikin gua ketemu sama orang lain yang memaksa gua untuk menyapa.


Masuk SMA, mungkin di sini perubahannya. Gua mulai berpikir gua nggak mungkin jadi diri gua yang dulu terus. Di samping gua INTP kayaknya gua tetap butuh orang untuk diajak berteman. Even tho awal masuk gua masih cool-cool ala INTP nggak mau ngajak orang kenalan duluan, nggak mau ngajak ngomong duluan. Tapi akhirnya gua punya teman, cukup banyak.

Ini bukan geng, tapi kalau main langsung besar-besaran. Nyaris setiap hari ngumpul sampai Magrib dan nonton sesering mungkin. Gua merasakan euforia yang belum pernah gua rasakan, yaitu punya banyak teman. Asyik.

Tapi semakin lama, gua semakin capek.

Iya, gua capek. Gua act like extrovert selama 1,5 tahun kurang lebih. Setiap gua sampai rumah setelah perkumpulan yang terlalu sering itu, bikin gua capek, ngantuk, uring-uringan. Baterai gua habis total. Gua melupakan jati diri gua sebagai introvert yang nggak bisa diforsir sedemikian untuk bersosialisasi dan bertemu banyak orang. Sementara gua melebihi batas. Gua ketawa-ketawa, gua nyanyi-nyanyi, gua ngebanyol everything, do something stupid, itu kayak bukan gua.

Akhirnya, gua ngedrop parah. Baterai gue korsleting.

Gimana enggak? Introvert memaksakan dirinya menjadi seorang extrovert yang menurut gua tolol, sangat-sangat tidak peduli dan mencintai dirinya sendiri semata untuk kebahagiaan orang lain. Di situ gua tiba-tiba hobi menyendiri (lagi). Gua selalu mencari cozy corner, yaitu di depan kelas 11 gua dulu. Rasanya adem, relaks, nggak ada tekanan apa-apa sambil gua nyender ke tembok. Rasanya setiap kali di situ sambil lihatin orang yang lewat gua lagi body charging. Gua lagi isi baterai gua yang baru diganti. Gua tiba-tiba jadi nggak banyak omong, gua lebih sering mengamati, tapi rasanya nggak sebodo amat dulu, rasanya ada yang berbeda dari gua SMP.

Dan gua iseng-iseng tes kepribadian online, tentu mengisinya sesuai kondisi gua pada saat itu. Kemudian hasilnya keluar. Gua kaget setelah lihat hasilnya itu INFP. Lho, kok bisa? Bukannya gua INTP? Terus gua browsing apa kepribadian seseorang bisa berubah atau nggak, dan rupanya memang bisa karena faktor-faktor tertentu.

Gua merasakan banget perubahan yang signifikan, terutama pada kondisi emosional gua. Gua yang dulu sama sekali nggak sensitif atau biasa aja akan sesuatu, jarang nangis dan lain sebagainya, terus gua heran kok tiba-tiba gua bisa nangis karena suatu hal yang sepele, yang menyenggol ketenangan gua. Dari situ gua mulai menelaah perubahan-perubahan yang terjadi pada hidup gua dari gua tau kalau gua ini INTP kemudian INFP. Gua jajarin keduanya, gua jadiin bahan perbandingan. Dan super beda. Gua ternyata kurang open dengan diri sendiri sampai perubahan itu aja nggak gua sadari.

Semakin hari gua merasa semakin lebay, semakin lembek, tapi tetap dibungkus dengan cool ala INTP dicampur muka gua memang nggak nyelo. Jadi, gua akan selalu terlihat baik-baik saja, nggak ada rona-rona kesedihan yang terpancar. Tapi batiniah gua kayak merasa selalu iba akan hal di sekitar gua. Gua jadi lebih peduli akan hal-hal kecil yang dulu gua bodo amatin.

Mulai dari omongan orang yang tiba-tiba gua ambil hati. Nangis.

Ditinggalin teman-teman entah karena apa secara tiba-tiba. Nangis lagi.

Ada konflik yang bikin gua kesel banget. Nangis lagi dan lagi.

Yang padahal dulu gua anti banget nangis, gua selalu marah atau diam.

Rasanya gua nggak bisa melihat orang lain sedih, gua nggak sanggup. Gua selalu mau merangkul siapapun yang memiliki luka, walaupun gua sendiri terluka. Gua nggak tega melihat isi dunia ini saling sakit-menyakiti. Rasanya mau marah, dan definisi marah yang gua tulis ini sekarang menjadi tangis. Setiap apapun yang mengganggu perasaan gua, gua cuma bisa nangis. Gua nggak ngerti kenapa bisa semelankolis itu. Ditambah gua pencinta sastra dan hobi menulis, suka baca juga. Semakin banyak yang gua baca, semakin tinggi sensitifitas gua. Gua semakin sering nangis hanya karena baca sesuatu hal yang menyayat. Atau bahkan gua bisa nangis karena imajinasi gua sendiri yang padahal itu nggak nyata. Sumpa, jauh dari logis.

Sampai sekarang gua kuliah, gua masih INFP. Tapi entah, kadang gua merasa capek. Sangat-sangat capek menjadi INFP. Akhir-akhir ini gua semakin parah dalam tingkat memikirkan orang lain daripada diri sendiri. Dan gua selalu merasa diri gua itu susah untuk dimengerti. Apa-apa yang gua lakukan selalu disalahartikan oleh orang-orang. Perilaku gua begini dianggapnya begitu, jadi gua selalu harus menjelaskan maksud gua dengan detail. Padahal, sebenarnya hal itu nggak perlu. Bagi gua, kalau orang itu serius mau mengerti, dia akan berjuang dengan sungguh-sungguh gimana si INFP ini.

Mudah bagi gua sebagai seorang INFP untuk membaca karakter orang yang lainnya. Tapi sulit untuk orang lain mengerti INFP yang rumit ini. Sometimes bangga jadi INFP, sometimes sedih juga karena "KOK SUSAH SIH PUNYA ORANG YANG BISA NGERTI?" (tanpa harus selalu gua jelaskan ini itunya)
Sampai akhirnya ruang lingkup gua semakin kecil, semakin banyak yang memilih pergi dari hidup gua. Apalagi kalau nggak nangis? Apalagi kalau nggak menyalahkan diri sendiri? Apalagi kalau bukan selalu mengingat-ingat kebaikannya? INFP itu "always looking for the hint of good in even the worse of people and events" ketimbang menyalahkan mereka, gua malah jadi mikir setiap potongan-potongan kecil kebaikan mereka di hidup gua. Apapun itu. Yang bikin gua sulit membenci sesuatu. Nggak kayak gua waktu INTP, mudah banget rasanya untuk membenci suatu hal, kalau sekarang ini enggak. Gua nggak bisa membenci apapun dan siapapun, terlepas dari tindakannya buruk atau nggak karena gua selalu percaya masih ada hal baik di samping itu.

Nggak sedikit yang bilang kalau gua ini jutek, dingin, cuek, aneh, ya gitu-gitu deh. Tapi yaudah mau gimana, kedukung juga sama muka gua yang nggak nyelo. Sebenarnya gua ini nggak pernah kesulitan berada di suatu tempat yang baru, makanya gua nggak takut kemana-mana sendiri, nyasar berkali-kali sendiri. Cuma aja nggak mudah untuk menemukan orang yang cocok, dan nggak mudah untuk dekat sama gua. Balik lagi; susah dimengerti/ditebak.

But, kalau kalian lihat gua sama orang yang uda "klop" banget, gua bakalan berbeda 180 derajat mungkin. Gua bisa bercanda kok, gua humoris kok, gua juga childish kok di balik sifat kedewasaan gua dan kata-kata bijak gua yang seliweran muncul di kepala. INFP: 50% mature and 50% childish. Heuu


Gua mau bahas sedikit tentang rasa dan logika

Sebagai mantan INTP di mana dominan menggunakan thinking/logika dan sekarang gua INFP di mana dominan menggunakan feeling/perasaan
menurut gua pribadi kedua itu harusnya balance/seimbang, nggak boleh berat sebelah, atau lebih baik kalau digunakan di waktu yang tepat. Karena kalau salah satunya menonjol bisa fatal. (seperti apa yang terjadi dengan gua)

Rasa yang unggul: buat kita terlihat bodoh
Logika yang unggul: buat kita terlihat tak acuh

Gua nggak setuju dengan ungkapan "cowok lebih logis, cewek lebih perasa" itu semua tergantung karakter dia sendiri.
Gua sebagai seorang perempuan, pernah selogis itu dan seperasa itu, sampai di titik sadar berat sebelah bikin nggak baik impactnya ke diri gua dan orang lain.

Jadi, mau cowok mau cewek mereka diharapkan imbang kedua aspek itu. Yaaaa walaupun nggak mudah, because I know that feel so well

Newer Posts
Older Posts

Pemilik Ruang


Halo, selamat datang di Ruang Tenang! Senang mengetahuimu mengunjungi ruanganku, tempat aku melarikan diri dari kegaduhan dunia. Di sini kau akan bertemu sekat-sekat ruang dalam kepalaku yang begitu sesak menjadi untaian kata-kata.

Mari Berteman

Labels

Berdikari Jurnal Karya Teman Hidup

Blog Archive

  • ▼  2022 (9)
    • ▼  September (1)
      • Rangkul Bayangan (Sebuah Usaha Mendekati Diri Send...
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (6)
  • ►  2021 (1)
    • ►  Desember (1)
  • ►  2020 (11)
    • ►  Desember (3)
    • ►  September (2)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2019 (5)
    • ►  November (1)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Februari (2)
  • ►  2018 (5)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (1)
    • ►  April (2)
  • ►  2015 (10)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Februari (2)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2014 (3)
    • ►  Desember (1)
    • ►  November (2)


FOLLOW ME @INSTAGRAM





Created with by BeautyTemplates | Distributed by blogger templates