Ada hal yang aku takutkan bertemu dengan seseorang.
Ada hal yang aku benci dituduh dengan apa yang tidak aku lakukan.
Sulit membangun kepercayaan itu lagi, sulit untuk membuatnya percaya dengan kenyataan yang sebenarnya.
Mulut tak lagi alat yang jujur untuknya, padahal semua kebenaran telah terlontar.
Hati yang begitu lembut seakaan menjadi kasar setelah adanya profokator.
Apakah kebaikan selama ini tak menjadi bukti untukmu jika aku orang yang (benar-benar) baik?
Apakah harus menjadi biasa saja dan menjaga jarak untuk aku tidak dituduh seperti apa yang kalian tuduh?
Apakah aku harus memusnahkan segala kasih sayang yang teramat tulus dilubuk hati?
Apakah hanya karena sepatah kalimat itu kini merubah kedekatan kami?
Tolonglah pahami apa yang tidak kalian ketahui..
Jadilah manusia cerdik dalam mengatasi kesalahpahaman,
Tegakah kalian menyakiti hati yang teramat tulus?
Tegakah kalian memisah jauhkan kami?
Aku bukan penghancur hidupnya, tapi aku menjaga keutuhan dirinya.
Apa kalian tak bisa membedakan apa yang yang terjalin diantara kami?
Apa kalian tak bisa mengartikan maksud dari kalimat tersebut?
Apa kalimat itu tidak boleh ditujukan kepada sesama?
Maaf jika kalian berpikir seperti itu, intinya aku tidak pernah merasa kalau aku seperti yang kalian tuduhkan.
Gua Risky Septianingsih, gua obsesi banget buat jadi seorang penulis. Tapi gua belum punya cukup banyak ide-ide atau imajinasi yang bakalan gua tuang dalam bentuk tulisan. Paling juga gua cuma nulis sebagian kalimat yang gua ucapin nggak sengaja yang menurut gua bermakna. Kadang nulis novel pun nggak selesai, mentok disitu-situ aja. Maklum namanya juga penulis amatiran :v wkwk. Gua tau kok, gua nggak punya otak yang bener-bener pinter buat menulis sebuah novel. Kata-kata gua juga masih ada yang nggak baku. Iya, gua terbiasa berbicara pakai bahasa yang santai. Gua juga belum bisa menghasilkan sebuah kalimat yang besar maknanya buat gua ataupun pembacanya. Gua cinta banget sama dunia tulis menulis. Cuma tulisan yang bisa menggambarkan isi hati seseorang, dengan tulisan kita mampu mencurahkan segala isi hati yang kita rasa. Itu sebabnya kenapa gua suka nulis novel. Sebagian novel yang gua tulis pun ada yang reality, ada juga harapan, cinta, kesedihan, ketegaran, dsb. Gua malu kalau tulisan gua dibaca sama orang lain, karena gua sadar tulisan gua belum bener-bener berbobot dan masih dibawah standar kwalitas penulis. Kadang suka iri baca novel yang penulisnya lebih muda dari gua. Dia hebat banget, gua aja belum bisa terbitin buku. Malu sama diri sendiri. Tapi syukur alhamdulillah gua udah berhasil nulis novel sampai selesai, itupun cuma satu haha. Tapi gua masih ragu-ragu buat terbitin itu buku atau enggak. Gua takutnya pas gua kirim tiba-tiba dibalikin lagi itu nyesek yekan?:" Emang sih kalo nggak dicoba dulu gua gaakan tau diterima atau enggaknya. Tapi gua masih labil banget pokoknya, antara dikirim atau engga. Duhh kok gua jadi curhat gini sihyak :v wkwk
